Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label puisi. Tampilkan semua postingan

Aku memanggilnya Bunda...


Aku bertemu saat mata kami saling beradu
Dulu sekali, sebelum semua tahu
Mendiagnosa getaran hati yang bertalu

Memicu resonansi yang merangkai rindu

Sampai akhirnya terjerat dan terpisahkan waktu


Tapi tak apa, masih kubiarkan ruang di hatiku kosong tak terisi

Masih kusisakan jejak senyumnya yang berpendar

Bergeming dalam bingkai terindah yang pernah kumiliki


Sampai akhirnya ia datang di saat yang tak terduga

Menagih ruang di hati yang masih terbuka, katanya
Lalu ia memandangi jejak senyumnya yang masih tersisa
Tersenyum, kemudian memuji bingkai terindah yang kujaga


Lalu aku memanggilnya bunda…


Sejenak ia terdiam, kemudian tersenyum dalam suara

Sungguh, ku ingin membuatnya bangga

Kulafadzkan lagi dengan berbisik, nyaris tanpa suara
Aku memanggilnya bunda…


Kemudian kubacakan prosa usang yang ada

Kurangkaikan syair puisi terburuk yang pernah tercipta

Ia tetap tersenyum, tanpa tertawa
Ia tetap tak lupa apa arti kata sederhana


Kusampaikan, aku jemu bermonolog soal cinta

Ber-orasi kata tanpa makna
Ia malah tertawa


Katanya, tak perlu lagi aku bermonolog soal cinta

Tak perlu juga ber-orasi kata tanpa makna
Ia akan setia menjadi lawan bicara

Atau menjadi makna dalam setiap kata


Kubisikkan kembali kata itu
Kulafadzkan, kali ini tidak berbisik tapi perlahan

Aku memanggilnya bunda…



Rangkaian kata ini di posting dalam rangka ikut meramaikan acara unggulan parade pusisi cinta pada BlogCamp (abdulcholik[dot]com)
Gambar dipinjam dari sini
Selengkapnya...

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme