Sudah sekian lama aku tak kembali menulis di blog ini. Baik puisi, cerita, pendapat.. masih banyak lagi. Sebenarnya masih banyak yang ingin aku ungkapkan. Namun entah kenapa sepertinya situasi kurang mendukung. Mulai dari komputer yang rusak, ide yang sudah keburu hilang dari otak sebelum menjadi teks, sampai alasan klise: tak ada waktu.
Ya, sejak beberapa hari ini aku merasakan begitu berharganya tiap detik waktu yang berjalan. Sejak pengumuman itu...
Sekadar pemberitahuan, diklat yang saya ikuti akhirnya berakhir pada tanggal 27 Maret 2009. Pada tanggal 20 Maret 2009 telah diumumkan tempat-tempat di mana kami harus menjalankan tugas. Dan akhirnya Samarinda adalah kota tujuan saya berikutnya.
Diklat pun terbagi menjadi 3 kelas. 2 kelas berisi kawan-kawan yang ditempatkan di daerah, termasuk saya. 1 kelas lainnya untuk kawan-kawan yang mendapatkan tempat di pusat. Selama sepekan terakhir itupun akhirnya kami mepelajari Sistem Pengelolaan Keuangan Pemerintah Daerah utuk yang mendapatkan daerah dan Sistem Pengelolaan Keuangan Pemerintah Pusat untuk yang dapat di pusat.
Singkat cerita, setelah diklat berakhir kami masih memiliki waktu sekitar 2 minggu sebelum menjalankan tugas masing-masing. Ah,,, bagiku waktu terasa begitu cepat atau mungkin diriku saja yang tidak bisa me-manage waktu...
Besok pagi saya akan berangkat ke Samarinda. Sebuah awal kehidupan baru bagi saya. Semoga lancar.
Malam ini sebenarnya banyak yang ingin kutulis namun entah mengapa tak sanggup ku tuangkan kata per kata. Mungkin aku terlalu lelah setelah seharian tadi berkeliling Jakarta sekadar berpamitan pada sanak saudara. Atau mungkin pikiran ini yang sudah mencapai awang-awang tentang bayangan terhadap kota itu.
Ah, sudahlah... Telah ku gantungkan cita-citaku, pantang untuk ku turunkan kembali. Samarinda aku datang...
Selengkapnya...
Tujuan berikutnya, Samarinda...
4/10/2009 10:17:00 PM
muam_disini
Posted in
diary
Sudah 2 bulan
3/15/2009 12:04:00 PM
muam_disini
Dari beberapa kebiasaan itu mungkin banyak hal-hal yang sudah mulai terlupakan. Benar apa yang dikatakan teman-teman disana. Kasur yang empuk membuat ku melupakan apa arti insomnia. Jadwal makan yang tetap di tambah menu yang hampir setiap hari disuguhi protein tingkat tinggi membuat ku melupakan apa arti lapar. Suhu ruangan- baik di kelas maupun di kamar- yang dingin
serasa membekukan hati dan otak.
Tinggal beberapa hari lagi aku berada disana. Semoga nanti setelah keluar aku tak lupa pada arti kehidupan yang sebenarnya. Semoga nanti aku kembali mengenal arti insomnia, arti lapar, dan arti kesulitan. Semoga hati dan pikiranku tak jadi beku. Semoga...
sumber foto terakhir:http://catatancekersambilboker.blogspot.com/
Posted in
diary
Pada siapa kami harus percaya?
3/09/2009 11:54:00 AM
muam_disini
Kawan, sebentar lagi negeri kami akan mengadakan sebuah pesta besar, PEMILU katanya. Semarak warna-warni disana-sini. Kami diWAJIBkan untuk memilih siapa yang akan dijadikan sebagai pemimpin atau wakil kami kelak. Berbondong-bondonglah orang-orang berusaha untuk meyakinkan kami bahwa mereka yang pantas dijadikan sebagai pemimpin atau wakil kami.
Publikasi sudah dilakukan, wajah-wajah pun bertebaran. Dimanapun kau berada di negeri kami, dengan mudahnya kau akan mendapati wajah-wajah itu, mulai dari pinggiran jalan protokol, pasar-pasar, pohon, tembok, sampai tempat-tempat yang tak terjangkau seperti puncak menara, kolong jembatan atau tempat lainnya. Di antara wajah-wajah itu hampir semua tidak ku kenal, atau jika ada yang dikenal terasa asing bagiku. Dengan pose-pose yang mereka anggap paling wah dan umbaran kata-kata yang kadang terasa hampa makna.
Ah, lebih baik ku tak berpikiran buruk. Mungkin mereka benar-benar "mampu" memimpin atau mewakili kami entah dalam segi apa. Namun, siapa yang harus ku percaya?
Ketika guru mengaji kami ikut mendaftarkan diri, lalu siapa yang akan mengajari kami membaca alif, ba, ta? Ketika para pedangang mulai berbondong ikut mengajukan diri, apakah mereka bersedia kami hutangi lagi, atau lebih berpihak pada keuntungan toko mereka sendiri? Ketika para tokoh agama ikut juga mengajukan diri, lantas siapa yang akan mengingatkan kami jika kami salah?
Padahal mereka pernah mangakui, dunia yang akan mereka masuki mampu merubah teman jadi lawan, dan meubah lawan jadi setan. Lalu, pada siapa ku harus percaya?
Kawan, mata kami mungkin sudah hampir rabun karena mereka sesaki dengan wajahnya. Telinga kami mungkin sudah hampir tuli karena mendengar janjinya. Mulut kami mungkin sudah lelah membicarakannya. Tapi kami masih berharap adanya perubahan untuk negeri kami.
Kawan, pada siapa kami harus percaya?
Selengkapnya...
Posted in
catatan
kemana saja selama ini?
3/09/2009 11:15:00 AM
muam_disini
Sudah sekian lama sepertinya tidak berhubungan dengan dunia luar (bukan makna sebenarnya). Sudah lama juga blog ini tak terurus. Selama beberapa pekan kemarin dan beberapa pekan ke depan lagi, saya harus menjalani diklat. Ya, sebuah masa untuk berlatih menjadi pribadi-pribadi yang siap untuk meju ke medan tempur sebagai pengawal keuangan negara (tentunya...)
Secuil kisah yang sebenarnya ingin saya bagi. Mulai dari rambut harus diplontos 1 cm (penting gak sih), apel (baca: upacara.red) setiap pagi dan malam (menyenangkan juga...), baris-berbaris dari dan menuju tempat tujuan, sampai kelakuan-kelakuan gila saya dan teman-teman mulai dari asrama sampai di kelas. Hufh, sekelumit kisah yang mau tak mau memang harus dijalani untuk memulai masa pengabdian kepada negara. Mudah-mudahan kami semua mampu menjaga amanah sebagai pengawal harta negara(doakan saja...)
Dari sebuah tempat berupa kompleks bangunan di tepi Kali Ciliwung, pinggiran Jakarta, Kalibata tepatnya kami memulai apa yang kami sebut perjuangan. Pergolakan antara pemikiran, idealisme dan realitas dibenturkan disini. Menjadi nada-nada berirama yang dinyanyikan bersama. Di tempat ini pula kami dikenalkan segala kenyataan (walaupun masih sebatas di awang-awang: kata saudara shavaat) sebelum kami benar-benar terjun ke dunia nyata sebenarnya. Di sini pula kami disadarkan tentang keajiban kami ke depan. Semoga semuanya dapat terlewati.
Kawan, lubang kehidupan di depan masih menganga. Kita ada di tepinya. Entah kita akan masuk terperosok dan terjerembab di dalamnya, atau kita diam saja memperhatikan setiap orang terjatuh ke dalamnya?. Atau kita berusaha untuk menutupi lubang tersebut sedikit demi sedikit. Perjuangan baru akan dimulai kawan...
Selengkapnya...
Posted in
diary
kontroversi
1/31/2009 07:21:00 AM
muam_disini
Lagi-lagi ku bertemu kontroversi. Lagi-lagi pula semua mempertahankan alibi. Setiap orang memang punya kehendak berpendapat, tapi apakah dibenarkan tiap-tiapnya bereuforia dengan pendapatnya sendiri. Kemudian membunuh kesempatan tiap lainnya. Aku harap kita tidak sampai bereuforia dengan kontroversi... Selengkapnya...
Posted in
catatan
GO TO HELL FUCKING ZIONIST! SAVE PALESTINE!
1/15/2009 10:49:00 PM
muam_disini
UNTUK MENERBITKAN, COPY PASTE KODE DI BAWAH INI
<a href="http://duniamuam.blogspot.com/search/label/desain" target="_blank"><img src="http://i523.photobucket.com/albums/w358/muamdisini/FUCKINGZIONIST.jpg" border="0" alt="go to hell fucking zionist"></a>
UNTUK MENERBITKAN, COPY PASTE KODE DI BAWAH INI
<a href="http://duniamuam.blogspot.com/search/label/desain" target="_blank"><img src="http://i523.photobucket.com/albums/w358/muamdisini/SAVEPALESTINE.jpg" border="0" alt="save our palestine"></a>
Selengkapnya...
Posted in
desain
Surat buat saudaraku di Bumi Palestina
1/15/2009 10:22:00 PM
muam_disini

Assalamualaikum Wr. Wb. wahai saudaraku...
Ah, aku kira tak perlu lagi kutanyakan kabarmu. Sebuah basa-basi yang benar-benar basi. Entah sudah berapa kali kulihat dirimu dalam warta, entah berapa kali pula ku tak berbuat apa-apa. Saat kau terbelenggu dalam Jalur Gaza, tanah kelahiranmu sendiri, saat itu pula kembali ku terbisu. Tiba-tuba saja mulutku kelu.
Kembali saat ini kau dipaksa menyingkir dari bumimu, terkubur dalam puing rumahmu sendiri karena keserakahan kaum Zionis. Kembali kau dipaksa berhijrah meninggalkan bumi para nabi hanya untuk mengalah. Memberikan sedikit ruang bagi para Zionis tengik u
ntuk bernafas. Kembali pula ku diam. Hanya menatap kosong.
Sudah berapa tetes air mata yang telah kau keluarkan? Sudah berapa Liter darah jihad yang keluar dari dalam tubuhmu? Air mata kami disini mungkin tak dapat menghapus penderitaanmu. Doa kami disini mungkin tak dapat menghilangkan perihmu.
Aku hanya berharap, getir hati kami disini setidaknya dapat memakbulkan doa yang kami panjatkan untukmu. Sesungguhnya kami malu jika setiap hari hanya memandangimu tanpa ada yang dilakukan. Apakah dengan merasa sedih sudah cukup? Apakah doa kami cukup?
Maafkan kami. Jika sekali lagi kami hanya terpaku. Mungkin teriakan Allahu Akbar mampu menembus relung hatimu. Mengobarkan semangat Jihadmu. Bertahan di tanah kelahiranmu. Mempertahankan kemerdekaan Bumi para Nabi dari tangan zionis.
Kami mendukungmu. Doa kami menyertaimu.
Maaf jika hanya ini yang dapat kuberikan untukmu wahai saudaraku...
Posted in
catatan



