



PILIH YANG ANDA MAU...
PESAN SEKARANG JUGA...
JANGAN SAMPAI KETINGGALAN
Selengkapnya...
NEW SOMASI EDITIONS...
8/20/2008 10:31:00 AM
muam_disini
Posted in
desain
STOP KAPITALISASI PENDIDIKAN !!!
7/16/2008 11:28:00 AM
muam_disini
Tahun ajaran baru telah dimulai, kegiatan belajar mengajar pun mulai berjalan seperti biasanya dan seperti biasa juga di setiap sekolah baik negeri maupun swasta melakukan penerimaan siswa baru mulai dari tingkat TK sampai SMA. Seperti tahun-tahun sebelumnya, bahkan semakin lama semakin parah dalam ajang penerimaan tersebut mengalir jumlah rupiah yang tidak sedikit. Untuk bisa masuk sekolah negeri saja sekarang setiap anak harus menyetorkan uang bahkan sampai puluhan juta rupiah, lantas dimana peran sebuah sekolah negeri yang fungsi awal didirikannya sebagai sarana pendidikan guna mengentaskan program wajib belajar 9 tahun?
Dahulu, untuk bisa bersekolah di sebuah “SEKOLAH NEGERI” yang dibutuhkan adalah kemampuan OTAK. Seorang calon siswa untuk bisa bersekolah dilihat dari kemampuan berpikirnya, bukan melulu kemampuan finansial orang tuanya.
Namun sekarang, semakin banyak sekolah yang mencap dirinya sebagai “SEKOLAH NEGERI PILIHAN” , “SEKOLAH UNGGULAN”, “BERTARAF NASIONAL”, “BERTARAF INTERNASIONAL”, atau segala macam embel-embel lainnya lebih mengedepankan kemampuan materi orang tua calon siswa. Untuk bisa bersekolah disana yang dibutuhkan adalah seberapa besar orang tua si calon siswa berani menaruh dananya bukan seberapa besar kemampuan otak si calon siswa. Akibatnya calon siswa yang TANPA OTAK TAPI KAYA DANA bisa dengan mulus langsung masuk ke sekolah manapun yang diinginkannya. Sebaliknya, calon siswa yang KURANG BERUNTUNG dengan hanya mengandalkan kemampuan otaknya tapi tidak memiliki dana yang cukup sering gigit jari dan masih harus berjuang kesana kemari mencari sekolah yang mau menerimanya.
Yang lebih parahnya lagi, ketika ada calon siswa yang tidak memiliki keduanya, OTAK dan DANA, hanya berbekal SPIRIT untuk sekolah akhirnya malah tidak dapat bersekolah. Lalu dimana fungsi pemerintah sebagai pihak yang mewajibkan rakyatnya untuk bisa bersekolah jika hal seperti ini terus berlangsung setiap tahunnya?
WAJIB BELAJAR 9 TAHUN bukan sekedar imbauan, sudah sepantasnyalah pemerintah meninjau kembali keadaan birokrasi di sekolah-sekolah tersebut. Birokrasi sekolah yang BERMENTAL KAPITALIS tak layak untuk di sebut sekolah negeri bahkan unggulan. Sekolah negeri seharusnya digunakan sebagai sarana untuk mendidik bukan untuk mencari keuntungan.
SEKOLAH adalah HAK semua orang, BUKAN hanya untuk ANAK PARA PEMILIK MODAL !!!
Selengkapnya...
Posted in
catatan
go MUAM !!!
6/30/2008 11:49:00 AM
muam_disini
percobaan tracing vector dengan menggabungkan beberapa objek...
tapi saya masih bingung dengan pewarnaannya...
ga ngerti and ga bisa nge"match"nya....
Selengkapnya...
Posted in
desain
Kebenaran???
6/27/2008 10:51:00 AM
muam_disini
Sebenarnya apa itu kebenaran? Apakah kebenaran itu hanya merupakan hasil dari sebuah proses dialektika? Berawal dari adanya tesis yang kemudian dilawan dengan antitesis untuk menghasilkan sebuah sintesis yang selanjutnya menjadi tesis baru? Dari tesis baru itu muncul pula antitesis baru dan begitu seterusnya proses itu berlangsung secara berulang-ulang? Apakah itu berarti kebenaran itu bersifat dinamis dan selalu mengikuti perkembangannya? Kalau begitu, dimana letak kebenaran yang sesungguhnya? Sebuah kebenaran hakiki yang jika itu dijadikan sebuah tesis tak mungkin ada antitesisnya? Apakah kebenaran seperti itu hanya ada di tangan Sang Pencipta Kebenaran itu sendiri? Lalu, siapa sesungguhnya Sang Pencipta Kebenaran itu? Apakah manusia sanggup untuk mencipta sebuah kebenaran mutlak? Jika tidak, mengapa masih berani menyatakan dirinya itu paling benar dan yang lain itu salah?
Selengkapnya...
Posted in
catatan
Mahasiswa, dimana intelektualitasmu kini?
6/27/2008 10:50:00 AM
muam_disini
Kata-kata MAHASISWA yang dulu berkonotasi positif kini perlahan berubah menjadi negatif. Masyarakat yang dulu menganggap mahasiswa sebagai “agent of change” yang membawa perubahan bangsa ke arah yang lebih baik sekarang sudah mulai bergeser. Kini mahasiswa identik dengan pembawa terror, biang kerusuhan, pengusung kekerasan atau apalah lainnya yang intinya citra dari status dan kedudukan mahasiswa di mata masyarakat sudah sebegitu buruk. Mengapa bisa sampai demikian?.
Pergerakan mahasiswa yang mengatasnamakan rakyat semakin lama semakin berubah fungsi. Sebelumnya tujuan pergerakan ini adalah membawa aspirasi rakyat untuk bisa dijadikan pertimbangan pemerintah dalam memutuskan suatu kebijakan. Sebenarnya disini pencitraan sebagai mahasiswa masih baik karena mahasiswa dianggap sebagai “corong” dari suara rakyat. Tetapi, entah karena volume corong itu terlalu besar atau karena bentuknya yang berubah, fungsi dari pergerakan itu juga berubah. Pergerakan tersebut tak lagi murni menyampaikan aspirasi rakyat tapi lebih bermuatan politik. Latar belakang yang mendasari adanya sebuah pergerakan pun menjadi bermacam-macam. Sekedar cari sensasi, numpang tenar, atau bahkan bisa menjadi kendaraan yang efektif untuk berkampanye.
Hal ini lebih diperparah lagi dengan adanya “chaos” dari hampir setiap gerakan yang dilakukan mahasiswa. Penyampaian aspirasi yang dilakukan sering berujung pada pengrusakan fasilitas umum. Padahal di tengah krisis yang semakin mendera, rakyat sangat membutuhkan apa yang dinamakan fasilitas umum tersebut. Kalau semua sudah hancur, siapa yang bertanggung jawab?. Imbas yang paling besar memang dirasakan oleh rakyat sebagai pengguna. Lalu, apakah ini yang dinamakan pembelaan terhadap hak rakyat?.
Selanjutnya berita kekerasan dari sekolah kedinasan (yang berbau militer tentunya) tak henti-hentinya bermunculan. Di tengah mahalnya pendidikan dan susahnya mencari lapangan pekerjaan, sekolah kedinasan merupakan alternative pilihan jawaban. Namun, sistem senioritas di dalamnya seakan berubah menjadi mimpi buruk. Sekolah tinggi yang seharusnya menjadi pencetak tenaga handal dalam lembaga-lembaga pemerintahan seperti berubah menjadi
Kemudian, kabar kekerasan dari satu kampus dan kampus lainnya juga santer terdengar. Entah itu keributan antara satu kampus dengan kampus lainnya atau bahkan satu fakultas dengan fakutas lainnya dalam satu kampus hanya karena urusan sepele. Lalu, dimana landasan berpikir mahasiswa yang merupakan harapan bangsa?. Apakah fungsi lembaga pendidikan sudah bergeser menjadi pencetak preman dimasa depan?.
Jika kekerasan-kekerasan seperti itu masih terjadi, masih pantaskah kita menyandang gelar “MAHASISWA”?. Masihkah kita punya malu untuk menyebut kita sebagai pahlawan?. Dimana kesan intelektualitas dari mahasiswa itu sendiri?. Sebegitu dalamnyakah setan merasuk sehingga dari mahasiswa yang seharusnya lahir pemikiran-pemikiran baru dan segar malah muncul kehancuran?. Lalu, kapan bangsa ini bisa bangkit dari keterpurukan kalau tak ada generasi yang bisa diharapkan?. Masih banyak pertanyaan lainnya dan yang sanggup menjawabnya ya mahasiswa itu sendri. Semoga mahasiswa bisa bisa merubah bangsa ini menjadi sebuah bangsa yang lebih arif dan bijaksana…
Selengkapnya...
Posted in
catatan
making grafitty with vector
5/21/2008 12:32:00 AM
muam_disini
dalam membuat grafitty, media yang digunain gak harus selalu tembok. Berbagai media banyak digunakan oleh para bomber, antara lain mulai dari sepatu, kertas, kain, kaos, banyak lah...
tapi, saya memilih "ngebom" dengan media vector. selain lebih ramah lingkungan (karena gak menggunakan zat CFC yang ada di spray-paint), negbom via vector bisa diubah-ubah semau kita. tapi kelemahannya ya,,, gak bisa terlihat di tempat umum. kalo mau menggunakan media sticker dengan cara di cetak terlebih dahulu...
Selengkapnya...
Posted in
desain
celebrating 100 years of national awakening with products
5/21/2008 12:25:00 AM
muam_disini
Posted in
desain




