Surat buat saudaraku di Bumi Palestina



Assalamualaikum Wr. Wb. wahai saudaraku...

Ah, aku kira tak perlu lagi kutanyakan kabarmu. Sebuah basa-basi yang benar-benar basi. Entah sudah berapa kali kulihat dirimu dalam warta, entah berapa kali pula ku tak berbuat apa-apa. Saat kau terbelenggu dalam Jalur Gaza, tanah kelahiranmu sendiri, saat itu pula kembali ku terbisu. Tiba-tuba saja mulutku kelu.

Kembali saat ini kau dipaksa menyingkir dari bumimu, terkubur dalam puing rumahmu sendiri karena keserakahan kaum Zionis. Kembali kau dipaksa berhijrah meninggalkan bumi para nabi hanya untuk mengalah. Memberikan sedikit ruang bagi para Zionis tengik untuk bernafas. Kembali pula ku diam. Hanya menatap kosong.

Sudah berapa tetes air mata yang telah kau keluarkan? Sudah berapa Liter darah jihad yang keluar dari dalam tubuhmu? Air mata kami disini mungkin tak dapat menghapus penderitaanmu. Doa kami disini mungkin tak dapat menghilangkan perihmu.

Aku hanya berharap, getir hati kami disini setidaknya dapat memakbulkan doa yang kami panjatkan untukmu. Sesungguhnya kami malu jika setiap hari hanya memandangimu tanpa ada yang dilakukan. Apakah dengan merasa sedih sudah cukup? Apakah doa kami cukup?

Maafkan kami. Jika sekali lagi kami hanya terpaku. Mungkin teriakan Allahu Akbar mampu menembus relung hatimu. Mengobarkan semangat Jihadmu. Bertahan di tanah kelahiranmu. Mempertahankan kemerdekaan Bumi para Nabi dari tangan zionis.

Kami mendukungmu. Doa kami menyertaimu.

Maaf jika hanya ini yang dapat kuberikan untukmu wahai saudaraku...

Wassalamualaikum..
Selengkapnya...

TRUTH IN BLACK AND WHITE

Kebenaran seperti hitam dan putih. Kekontrasan yang terpancar dari setiap sisi yang berbeda, dari berbagai sudut pandangnya. Kemudian ia menjadi seperti berada di wilayah abu-abu...
Aku harap kebenaran dan kejujuran bisa selalu menyelimuti kita.... Selengkapnya...

Efek Rumah Kaca - Kamar Gelap


Tenggal 19 Desember 2008 kemarin, tepat saat peringatan hari kelahiranku, saya merasa seperti mendapatkan kejutan. Ya, Efek Rumah Kaca meluncurkan album keduanya yang diberi nama ”kamar gelap”. Saya sedikit terkejut karena peluncuran album ini terkesan tiba-tiba dengan jangka waktu hanya setaun semenjak peluncuran album perdana mereka. Saya pun baru mengetahui ERK telah meluncurkan single-nya dari pesan singkat seorang teman dan mengetahui alum ini pun dari berita di milis.

Setelah mengubek-ubek toko-toko kaset di Jakarta dan Bekasi akhirnya saya pun berhasil mendapatkan CD mereka. Cover yang ditampilkan pun cukup eksentrik, seekor kambing yang terbungkam mulutnya oleh jepitan jemuran. Ternyata isinya lebih eksentrik lagi. Mereka menggabungkan seni bermusik mereka dengan balutan seni fotografi kontemporer Angki Purbandono, seorang seniman dan aktivis dari Ruang MES 56. Walhasil, jadilah album ini penuh kejutan. Kejutan tersebut tak habis sampai disitu, satu per satu ketika lagu-lagu dari album tersebut diperdengarkan menghadirkan kejutan tersendiri. Mereka masih layak dinobatkan sebagai penyelamat musik Indonesia. Mari kita simak satu per satu...

”Tubuhmu membiru... Tragis” intro dengan melodi yang renyah. Sangat pas dijadikan appetizer sebelum mendengarkan lagu lain. Nuansa psychadelic masih terasa kental. Bercerita tentang seseorang yang berada dalam ketinggian mendapatkan bisikan-bisikan halusinatif untuk terjun ke bawah.
”hidup tak selamanya linier, tubuh tak seharusnya linier//kulihat engkau terkulai//tubuhmu memiru...tragis”

”Kau dan Aku Menuju Ruang Hampa” distorsi yang menggebu di awal menjadikan lagu ini lebih terasa keras. Bercerita tentang arus ketidak pastian yang menghanyutkan.
”kau belah dadaku, mengganti isinya//dihisap piiranku, memori terhapus//terkunci muutku menjeritkan pahit”

”Mosi Tidak Percaya”, di awal sudah terasa unsur punk rock. Lagu yang bermuatan unsur politik, menceritakan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
”ini masalah kuasa, alibimu berharga//kalau kami tak percaya, lantas kau mau apa!” .

”Lagu Kesepian” merupakan satu-satunya lagu cinta yang ada di album ini. Cholil, sang vokalis, pun mengatakan, ini lagu cinta yang tak ada kata cinta. Penuh dengan nuansa akustik bercerita tentang penagihan janji yang telah diberikan.
”oh, dimana terang yang kau janjikan...aku kesepian...”.

”Hujan Jangan Marah”, lagu yang telah diciptakan mereka sejak tahun 1999. Bercerita tentang situasi banjir besar yang menggenangi Jakarta. Lagu yang bernuansa pop progressive.
”lihatkah? Aku pucat pasi, sembilu hisapi jemari//setiap ku peluk dan menangisi hijau pucatnya cemara//yang sedih aku letih...”

”Kenakalan Remaja di Era Informatika” merupakan single pertama dari album ini. Judulnya yang menggelitik bercerita tantang penyelahgunaan perangkat digital oleh remaja zaman sekarang. Irama yang ceria sejak awal langsung mengingatkan saya pada Smashing Pumpkins.
”senang mengabadikan tubuh yang tak berhalang//padahal hanya iseng balaka”.

”Menjadi Indonesia”, lagu yang terinspirasi dari buku karangan Parakitri T. Simbolon dengan judul yang sama. Sangat nasionalis. Sebuah pengharapan kebangkitan Indonesia dari tidur panjangnya.
”ada yang runtuh//tamah ramahmu//beda teraniaya...”

”Kamar Gelap” bereloteh tentang situasi studio gelap untuk mencuci foto. Akustik di awal disambung dengan distorsi ringan dan menyegarkan.
”yang bicara adalah cahaya//dikonstruksi dikomposisi..”

”Jangan Bakar Buku”berisikan pesan betapa pentingnya buku untuk membuka jendela dunia. Sangat psychadelic, imajinatif. Suara Cholil berpadu dengan Vocal rendah Ade Firza Paloh (Sore). Bantuan gitar Iman Fatah (Lain, Zeke And The Popo) semakin membawa kita ke dunia lain.
“bait demi bait pemicu anestesi//hangus sudah, hangus sudah…”

“Banyak Asap Disana”, lagi-lagi lagu yang bertema lingkungan. Peringatan bagi para calon kaum urbanisasi ketika kota tak seindah mimpi.
”yang muda lari ke kota, berharap tanahnya mulia//kosong di depan mata, banyak asap disana...”

”Laki-laki pemalu” penuh dengan irama waltz, apalagi ditambah alunan kibor oleh Ramondo Gascoro (Sore) menjadikan suasana masa lalu terasa. Suara Ade Firza Paloh kembai membantu mengakhiri lagu dengan lembut. Bercerita tentang lelaki yang tak mampu menyatakan cinta.
”berharap gadis mengerti hatinya//tetes keringat mengalir mencoba melawan ragu...”

”Balerina” ending yang sangat tepat. Nuansa pop ceria di balut dengan petikan gitar (sounds like banjo) serasa mendengarkan lagu khas gurun nevada. Berisi penganalogian hidup dengan balerina.
”hidup bagai balerina//gerak maju berirama”

Dari ke-12 lagu tersebut masih tetap mencirikn ERK sebagai band yang cerdas. Berjalan di jalur pop, menggunakan lirik bahasa Indonesia namun tidak pasaran seperti lagu pada umumnya. Idealisme mereka masih tetap terlihat dari lagu-lagunya yang lebih banyak bercerita tentang masalah sosial kekinian, tak takut melawan arus. Bagi anda yang belum mendengar, lagu-lagu mereka layak masuk dalam playlist anda. Selengkapnya...

Tahun Baru????

Malam itu tidak begitu mendung, namun bintang tidak segemerlap seperti biasa. Aku sudah jenuh menonton acara di layar kaca yang isinya itu-itu saja. Sepertinya setiap akhir tahun menu yang disajikan selalu sama: Film2 yang pernah diputar di bioskop temanya horror atau teenage, dengan kehidupan borjuis atau tema cinta, kalau tidak acara panggung dengan band2 membawakan lagu mellow semellow-mellownya.

Saat waktu menunjukkan pukul 00.00 tiba-tiba saja saya terkejut. Ketika naik ke atas atap rumah, gemerlapan kota terlihat. Sajauh mata memandang percikan kembang api disana-sini. Aku jadi seperti melihat fatamorgana kehidupan. Gemerlap yang hanya sesaat.

Entahlah, bagiku pergantian tahun hanya ritual pergantian kalender yang terpampang di tembok. Setiap tahun baru, kalender yang usang segera diganti dengan yang baru.

Aku masih terduduk di atap rumah. Beberapa menit kemudian sepi mulai menyelimuti. Hanya beberapa sisa letupan kembang api yang ditembakkan ke udara. Langit kembali dingin. Entah berapa rupiah yang telah terbakar hari ini… Selengkapnya...

Sebuah bahasa hati

Ini bukan tentang persoalan cinta, melainkan hati. Aku harap ia mengerti. Kadang memang kurasakan tak sanggup berdiri apalagi untuk berkata. Memang kuakui selama ini aku membenci sebuah kata ”Cinta”. Aku selalu tak pernah puas dengan kata itu. Ingin rasanya ku lakukan sebuah ekspsdisi untuk menemukan sebuah kata yang maknanya lebih besar dari kata itu.

Mungkin ia tak pernah mengerti mengapa aku diam seribu bahasa. Itu karena aku tak mengenal cinta dari kata, tetapi dari hati. Aku harap ia juga mengerti. Ah, ternyata tak ada yang mengerti bahasa hati. Sekarang semua telah terangkai dalam kosakata yang dengan mudahnya bisa dicari dalam kamus lengkap, wikipedia, google, atau pun world book.

Tapi aku merasa ia telah hadir dalam hatiku meski tak mengerti bahasanya, pun dengan isyarat. Aku hanya berharap ia meninggalkan hati didalamnya dan ia lupa mengambilnya sehingga ada mereka bisa berbicara dengan bahasa yang sama-sama mereka mengerti. Bukan bahasa yang kita mengerti yang biasa terucap lewat kata.

Dan kini kuharapkan sedikit senyumnya terjatuh di dalam hatiku dan ia lupa memungutnya. Sehingga ketika hati sama-sama bicara senyum itu tergantung disisinya berbingkai pigura paling indah yang pernah ada.
Ah, aku harap ia mengerti... Selengkapnya...

Jawaban yang terlambat

Pagi ini aku merasakan kembali suasana melankolis. Entah karena apa. Semenjak tengah malam tadi insomnia ku kambuh lagi, mungkin terlalu banyak hal yang dipikirkan. Atau mungkin pula karena langit semenjak tadi masih enggan berhenti mengucurkan air hujannya.

Dari dalam bis menuju kantor kuperhatikan keadaan sekitar. Suasana langit yang mendung enggan menampakkan secercah sinar mentarinya. Kaca yang berembun akibat suasana yang begitu dingin semakin meredupkan suasana. Ah, ditambah pula dengan pendingin ruangan di dalam kendaraan ini yang begitu dingin. Segera saja kurapatkan jaketku, setidaknya bisa mengurangi kadar menggigilku.

Kemudian kuambil ponsel genggam dari kantong celanaku yang sedang dalam keadaan basah akibat guyuran hujan. Lalu perlahan kembali kubuka folder inbox di dalamnya. Perhatianku tertuju pada 3 pesan singkat yang kuterima tadi malam. Isinya tidak begitu singkat jika tidak ingin disebut cukup banyak.

Kubaca kembali satu persatu pesan singkat itu. Ya, kuanggap itu semua adalah jawaban dari empat tahun penantian. Ketika membacanya ada rasa bahagia bercampur dengan penyesalan. Bahagia karena akhirnya aku mendapatkan sebuah jawaban dari sebuah ketidakpastian dan penyesalan karena ternyata jawaban itu datang terlambat meski akhirnya kutemukan kepastian.

Aku memang sempat berpikir empat tahun telah terbuang percuma. Tapi tidak, bagiku jawaban itu sudah cukup meskipun terlambat datangnya. Kuterima empat tahun itu sebagai pelajaran hidup untuk menjadi dewasa dalam arti sebenar-benarnya, bukan dilihat dari segi umur. Empat tahun itu kuanggap sebagai waktu yang dibuthkan untuk proses pematangan jiwa yang didalamnya aku dicekoki dengan berbagai macam pengetahuan kehidupan yang tak kuterima di bangku kuliah. Entahlah...

Kusandarkan kepalaku pada bangku bis itu kemudian kucoba pejamkan mata. Dari tadi malam mata ini sulit terpejam. Ah, aku masih belum bisa menidurkan jiwaku barang beberapa menit saja. Akhirnya kulayangkan pandangan ke luar jendela. Jalanan tampak berkilat oleh basahnya air. ”aku selalu suka sehabis hujan di bulan Desember...” lagu Efek rumah Kaca yang teringat dalam pikiranku meskipun radio yang diputar melantunkan nada yang lebih melankolis. Langit masih belum mau berhenti mencurahkan air ke bumi.

Kubiarkan diriku terbawa suasana melankolis ini. Dan bis pun melaju keluar dari Tol Gatot Subroto manuju Slipi... Selengkapnya...

Aku Sayang Ibu


Ketika kucium tangannya, seketika itu juga terhirup olehku aroma detergen bubuk pencuci pakaian yang kukenali. Meskipun sudah tak lentik lagi, tangannya masih cekatan untuk mengurus segala macam hal yang berkaitan dengan rumah tangga. Dari jemarinya sudah tak lagi melingkar emas atau permata tanda pernikahannya. Aku pun sudah lupa kemana perginya semua, katanya untuk biaya pendidikan kami atau sekedar untuk bertahan hidup.


Kulitnya sudah mulai legam. Bukan, bukan termakan usia, tetapi karena sengatan mentari saat menjemur pakaian. Atau saat terpaksa berbelanja ke pasar karena hari sudah siang. Langkahnya terlihat letih namun tak bisa dibilang gontai. Aku suka dengan semangatnya.


Di sekitar matanya mulai cekung, ada bayangan hitam disana. Bukan, bukan menggunakan eye shadow, tetapi karena terpaksa bangun lebih pagi dan tidur lebih larut. Hanya untuk membangunkan putra-putrinya dan menunggunya sampai di rumah dengan selamat.


Tubuhnya pun sudah mulai terlihat menipis. Bukan karena diet yang biasa dilakukan orang-orang yang kurang percaya diri, tetapi mungkin karena tak sempat beliau menikmati makanan hasil olahannya. Tak punya waktu untuk mengunyah sekedar sesaat , katanya.


Ah, andai aku tahu apa yang bisa membuatnya bahagia. Aku rasa pijitan tanganku apabila beliau merasa pegal tak mampu mengurangi rasa lelah hidupnya. Baik fisiknya maupun hatinya. Mungkin hadiah-hadiah yang kami berikan tak mampu menebus jasanya yang selama ini telah beliau berikan pada kami. Baginya, senyum kami dimasa yang akan datang yang diharapkan.


Aku hanya ingin datang padanya kemudian mengucapkan sepatah kata, mungkin bisa menyenangkan hatinya meskipun tak bisa membalas jasanya…


“Aku sayang ibu”…

Selengkapnya...

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme