Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan

ke Sengata atau Sangatta?



Maaf kawan, kembali lagi saya harus meninggalkan aktivitas yang berkaitan dengan blog dalam waktu yang cukup lama. Ingin sekali rasanya berkunjung ke tempat kawan-kawan semua, tapi ada rasa malu karena saya belum bisa menyaikan hidangan segar pada blog ini. Alhasil, saya hanya sanggup sesekali mengintip di tempat kalian. (^_^).


Jalan Samarinda-Bontang kembali kulalui. Namun kali ini tujuannya bukan untuk wisata menikmati alam borneo, tujuan saya kali ini adalah ke Sengata, ibukota dari Kabupaten Kutai Timur. Selama sebulan penuh saya akan bertugas disana. Itulah alasan yang menyebabkan (lagi-lagi...) blog ini sampai terbengkalai...


Kali ini perjalanan Samarinda-Bontang yang sebelumnya pernah kulewati (bisa dilihat dalam postingan ini dan ini) kulalui dengan mata terpejam, mungkin akibat semalaman saya tidak tidur mengerjakan “PR” tugas kantor yang harus segera kuselesaikan sebelum berangkat bertugas lagi. Memasuki gerbang Taman Nasional Kutai mataku kembali terbuka, mungkin rasa kantuk ini telah terpuaskan.


Pertama kali membuka mata (setelah terlelap sepanjang perjalanan) yang terlihat hanyalah hijau, hijau, dan hijau. Rimbunan pohon dan luasnya semak belukar menghiasi pemandangan di kanan-kiri jalan. Di kejauhan terlihat pohon-pohon besar yang menjulang di antara rimbunan pohon lainnya. Memang, sebagian besar kawasan Kutai Timur ini terutama jalan menuju Sengata (ibukota kabupaten Kutai Timur) masih dipenuhi hutan.


30 hari penuh berada Sengata, saya jadi merasakan atmosfer Kota Pertambangan. Pagi-pagi, sekitar pukul 7.30 WiTA saat kami bersiap akan menjalani tugas, kami selalu berpapasan dengan bis-bis berukuran bis Transjakarta yang lalu lalang membawa para pekerja tambang. Helm dengan warna menyala, celana jeans dengan sepatu boots sudah cukup mengidentifikasi pekerjaan mereka.



Besarnya Dump Truck, c oba bandingkan dengan mobil di belakangnya

Memang Sengata dikenal sebagai Kota pertambangan. Didalamnya terdapat lokasi penambangan perusahaan batu bara yang cukup besar dan terkenal hingga ke mancanegara. Kota ini pun hidup berkat adanya tambang-tambang tersebut. Ratusan atau bahkan ribuan orang menggantungkan hidup dari aktivitas pertambangan.


Yah, saya pun kemudian membayangkan apa yang akan terjadi dengan kota kecil ini beberapa tahun ke depan. Sepuluh tahun, Lima puluh tahun, atau ratusan tahun kemudian,,, saat gompalan-gompalan emas hitam itu telah habis tergerus apakah kota kecil ini masih akan tetap berdiri? Bagaimana dengan nasib orang-orang dan keluarganya yang menggantungkan hidupnya dari aktivitas itu?


Mendung pun menggelayuti langit sepanjang perjalanan Sengata-Samarinda, kali ini kulalui tanpa mata terpejam. Sengaja saya buka jendela mobil “Nissan Navara” itu, dan kuhirup dalam-dalam udara disekitar Taman Nasional Kutai. Sengaja kunikmati segarnya udara itu sebelum ikut menghilang bersama sumber daya bumi lainnya. Entah apa yang akan terjadi dengan pohon-pohon itu sepuluh tahun, lima puluh tahun, atau ratusan kemudian? Apakah pohon-pohon itu masih tegak berdiri menantang langit?


Yang masih menjadi pertanyaan, sebenarnya penulisan Sengata itu yang benar seperti apa ya? karena sampai saat ini masih ada dua versi penulisan : Sangatta dan Sengata. Kawan-kawan ada yang tau? (^_^)...


***

Terima kasih untuk kakaakin dan mba deny atas kopdarnya kemarin..hehehe... jadi semangat posting lagi nih..


Selengkapnya...

Wisata Kota Bontang (part 2) – Pulau Beras Basah


Dan akhirnya pagi pun tiba... Kami berencana berburu sunrise di Bontang Koala, lokasi yang pertama kali kami kunjungi, sejak jam 5 pagi. Namun apa daya, lelah di hari sebelumnya belum lunas terbayarkan sehingga jam 6 pagi kami baru keluar dan berlarian menuju darmaga kayu di tepi laut. Meski langit cukup berawan dan kami sudah cukup kesiangan, beberapa momen berhasil didapat.


Matahari belum beranjak dari tempatnya, kami memutuskan untuk segera meluncur ke persinggahan berikutnya: Pulau Beras Basah...

Terdapat beberapa alternatif untuk menuju ke pulau yang jaraknya kurang lebih 7 km dari Kota Bontang tersebut. Yang pertama adalah tempat keberangkatan, kita bisa memulai dari Jalur Bontang Koala dengan menyewa speedboat atau perahu ketinthing mlik warga sekitar, melalui Pelabuhan PT. Badak (ini hanya untuk karyawan dan keluarga PT. Badak), dan melalui Pelabuhan Tanjung Laut. Akhirnya kami putuskan pilihan ketiga...



Segeralah kami menyewa kapal klothok milik nelayan setempat (+ “nakhodanya” ^_^). Dengan proses negosiasi akhirnya mampu mendapatkan harga sekitar Rp300.000-an untuk menumpang kapal berkapasitas 10-12 orang penumpang (harga P-P, pak “Nakhoda”-nya rela menunggu kita disana loh..).Jarak dari Pelabuhan ke Pulau Beras Basah ditempuh kurang lebih dalam waktu 40 menit. Sepanjang perjalanan kita bisa melihat kawasan industri PT. LNG Badak lengkap dengan kilang-kilangnya ditambah beberapa mercusuar lepas pantai.





Mendekati pulau, kita disajikan pemandangan bawah laut dari permukaan. Jernihnya air laut membuat kita leluasa melihat ikan-ikan kecil khas daerah tropis berenang diantara terumbu karang. Riak ombak yang tak begitu besar mengajak kaki ini untuk sekadar merasakan sejuknya air laut di siang bolong.




Pulau kecil yang berada di wilayah Selat Sulawesi ternyata tak ramai penghuni, konon hanya satu keluarga nelayan yang ada di pulau itu. Bangunan di tengah pulau pun hanya ada sebuah rumah panggung panjang (milik keluarga nelayan ya..) yang kamar mandinya disewakan sebagai kamar ganti/kamar mandi umum dan sebuah menara setinggi 15 m yang dindingnya sudah mulai banyak menghilang. Oleh karena itu alangkah bijaknya jika kita ke pulau yang katanya sekarang luasnya hanya 1 Ha membawa bahan makanan atau makanan jadi yang mampu mengganjal perut dan jangan membang sampah makanan itu di sembarang tempat.



Konon katanya pada masa lalu pernah terdapat kapal besar pembawa beras dari Sulawesi terhempas diterjang ombak besar. Awak kapal yang takut tenggelam akhirnya menurunkan beras tersebut di sebuah pulau. Akhirnya beras itu terkena air laut dan menjadi basah, sejak saat itu nama Pulau Beras Basah digunakan sebagai nama dari pulau itu...


Selengkapnya...

Wisata Kota Bontang (part 1) – Bontang Koala

Menuju Laut

Matahari pagi sudah mulai beranjak ke peraduan saat kami, kumpulan kawan-kawan kantor pecinta wisata dan fotografi mempersiapkan keberangkatan menuju Kota Bontang. Jarak Kota Bontang dari Kota Samarinda dapat ditempuh dalam 2 jam perjalanan. Jalan trans Samarinda-Bontang pun hampir sebagian penuh liku, dan harus tetap waspada sebab beberapa ruas masih banyak terdapat lubang.


Siang menjelang sore akhirnya kami sampai di Kota Bontang. Memang pada awalnya kami belum merencanakan kemana kami harus melangkah, tetapi setalah searching kesana kemari akhirnya diputuskanlah kami menuju kawasan Bontang Koala.

Bontang Koala


Apa itu Bontang Koala?


Hmm..itu bukan nama hewan koala khas Bontang, tetapi sebuah nama sebuah perkampungan. Terletak sekitar 5 km dari Pusat Kota Bontang menuju kawasan pantai timur.


Lalu apa yang spesial?


Bontang Koala merupakan perkampungan yang didirikan di atas air. Yup, perkampungan yang terletak di Kota yang juga terkenal dengan mpek-mpeknya itu benar-benar didirikan tanpa berpijak di permukaan tanah melainkan di dasar laut. Bahan utama yang digunakan dalam bangunan-bangunan disana adalah kayu, khususnya kayu ulin yang terkenal dengan kekuatannya.


Kayu

Jepret


Yang kami salut di perkampungan ini meski tidak ada sama sekali bangunan yang benar-benar ada di atas tanah kehidupan mereka tetap berjalan layaknya kehidupan penduduk lain yang betul-betul berpijak di permukaan tanah. Karena memang rumah-rumah mereka berada di atas permukaan laut, maka mata pencaharian utama penduduknya adalah Nelayan.


Beristirahat Sejenak



Selain itu, perkampungan “terapung” ini juga dikenal sangat bersih. Sepanjang jalan yang mayoritas juga terbuat dari deretan kayu ulin itu sangat jarang ditemui sampah berserakan, justru setiap beberapa meter kita akan menemukan bak-bak sampah. Di bawah jalan dan rumah itu terdapat lalu lintas kecil tempat perahu-perahu ukuran kecil mengangkut hasil lautnya.

2 menara


Setelah puas berburu gambar di perkampungan tersebut rencananya kami akan ke pemberhentian selanjutnya, kawasan Industri PT. LNG yang terkenal dengan pencahayaannya yang indah di malam hari dan replika merlion khas Singapura yang juga ada di kota ini. Selanjutnya ingin coba mengambil suasana sunset di Bontang.

mengambil gambar

Api abadi

Karena sudah terlanjur sampai jadi sekalian saja kami menunggu pagi untuk mencoba berburu Sunrise di pesisir Bontang and next destination: Pulau Beras Basah...
Bersambung ke part berikutnya...


Selengkapnya...

Setahun sudah di Bumi Etam

Islamic Centre terlihat dari tepian Mahakam.Sumber: Koleksi Pak Aryo


Apa kabar kawan-kawan?.. Lama tak bersua ya.. rasanya gatal tanganku melihat blog ini terlantar, kasihan sekali pemiliknya sudah lama tak melongoknya. Sudah beberapa bulan ini saya bingung mau diapakan blog ini. Rasanya yang penting harus terisi dulu yah lalu keliling mampir menyapa kawan-kawan ....


Bulan April kemarin ternyata saya sudah genap setahun menginjakkan kaki ke Bumi Etam. Semenjak saya memposting artikel ini, sebuah artikel isinya pengalaman pertama saya ketika pertama kali berada di Kaltim, dengan berbagai harapan yang bisa saya bawa. Tak terasa juga ternyata sudah banyak kenangan yang saya peroleh.


Salah satu sudut Kota Balikpapan. Sumber: Koleksi Pribadi

Pertama kali saya tiba di Balikpapan saya merasa tak jauh berbeda dengan kota asal saya, Jakarta. Perbedaannya mungkin hanya tidak begitu banyaknya gedung-gedung pencakar langit. Ternyata ekpektasi saya tentang Kalimantan Timur meleset, Kalimantan Timur – Balikpapan – tak sesepi yang dibayangkan.


Di Samarinda pun begitu, Kota yang akhirnya menjadi tempat persinggahan saya selama beberapa tahun ke depan nanti ternyata bisa dikatakan cukup (bahkan sangat) ramai. Di Jakarta banjir, di Samarinda pun begitu. Tahun lalu kedatangan saya ternyata disambut dengan banjir besar di Samarinda. Mungkin yang sempat mengagetkan saya adalah budaya jalanan sebagian besar pengendara motornya. Ternyata ungkapan bahwa sebagian besar pengendara sepeda motor di Samarinda lebih urak-urakan daripada di Jakarta dan Jogja tak salah.


Selain itu yang sedikit mengagetkan adalah budaya jual belinya. Kalau dulu, ditempat asal saya pembeli adalah raja, maka penjual akan memberikan service penjualan yang memadai. Hal seperti itu ternyata sangat jarang saya temui di Samarinda. Kota yang terkenal dengan perdagangannya ini ternyata belum memiliki nilai tambah dalam hal pelayanan kepada pembelinya, meski di beberapa tempat saya masih menjumpai penjual yang ramah.


Yah, budaya di setiap daerah memang selalu berbeda. Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Susah senang di kota ini, provinsi ini, akan saya jalani semasa masa tugas saya masih belum berakhir. Bagaimanapun, di kota ini saya berusaha mencari nafkah dan menjalankan segala kewajiban. Semoga harapanku pada saat pertama kalinya menginjakkan kaki di tanah Kalimantan ini untuk sedikit banyak bisa berkontribusi dalam pembangunan bisa tercapai.


Saat ini Samarinda sedang menuju Pemilihan Walikota. Semoga yang menjadi pemimpin benar-benar bisa mengayomi rakyat, bukan sekadar janji-janji palsu.
Semoga nanti dengan Pemimpin yang baru bisa bersama-sama membangun Kaltim untuk semua....
Selengkapnya...

Hiatus yang Lama – masih pantaskah menyandang sebutan narablog?

Pulau Nunukan terlihat dari seberang

Sebelumnya saya ingin memohon maaf kepada kawan-kawan narablog atas ketidak-hadiran saya yang cukup lama. Hiatus tanpa berpamitan terlebih dahulu. Maaf saya tak sempat melakukan kunjungan BW atau sekadar memberikan komentar menyapa kawan-kawan lain. Maaf pula jika komentar-komentar di blog ini belum sempat terbalas. Jadinya blog ini seperti blog mati, tanpa ada yang mengurus....(sedih mode : on)


Hiatus ini berawal pada akhir Januari saat saya mendapatkan surat tugas untuk berangkat ke wilayah Nunukan. Sebuah kabupaten yang berada di ujung utara Kalimantan Timur, tepat berbatasan dengan wilayah Malaysia. Sebulan lamanya saya disana, sampai akhir Februari kembali lagi menginjakkan tanah Samarinda.

Sebenarnya saya punya rencana untuk berbagi cerita dengan kawan-kawan. Tetapi tumpukan tugas kantor dan sederet tugas kuliah pengganti akibat bolos sebulan menghalangi niat “baik” itu. Ditambah lagi dengan deretan UTS beberapa mata kuliah di akhir Maret. Ditambah lagi pula dengan kambuhnya penyakit malas menulis kronis. Ternyata kerja sambil kuliah itu memang tak semudah apa yang dibayangkan ya....


Di awal april saya sempatkan diri merefresh pikiran dengan kembali ke kampung halaman di Bekasi. Ternyata saya sudah ketinggalan perayaan ulang tahun Kota Bekasi yang diadakan blogger Bekasi. Yah, setidaknya bisa bertemu dengan keluarga walau hanya sebentar sudah bisa menenangkan pikiran.

Rencananya pertengahan bulan ini saya akan kembali ditugaskan lagi, entah kemana. Namanya tugas negara, mau tak mau harus dilaksanakan. Mungkin akan ada hiatus lama lagi. Setidaknya saya ingin memohon izin kepada kawan-kawan, atau sekadar ingin memberikan informasi bahwa blog ini belum mati...

Jadi terlintas pertanyaan di dalam benak, masih pantaskah disebut narablog aka blogger tanpa posting tulisan atau BW?

Tetap berkunjung yah kawan-kawan...




Selengkapnya...

Bukit Bengkirai



“Alam tidak pernah menghianati bagi hati yang mencintainya”

Aroma daun kering yang jatuh ke tanah memenuhi rongga penciumanku. Menapaki langkah demi langkah menyusuri alam yang masih asri. Sejuk kurasakan semenjak awal memasuki salah satu kawasan di Kalimantan Timur yang masih memiliki rimbunan hutan tropisnya. Ya, saya dan kawan-kawan mengunjungi Taman Nasional Bukit Bengkirai.

Bukit Bengkirai merupakan kawasan wisata alam berupa hutan alami yang masih asli. Letaknya berada di Km 36 Jalan Raya Soekarno-Hatta Balikpapan Samarinda. Dari jalan itu masih harus masuk ke dalam lagi sampai akhirnya bertemu jalan yang belum diaspal. Lalu, kita menyusuri jalan tak beraspal sejauh 7 km.

Selama perjalanan itu, kita masih bisa menikmati p
emandangan hutan asli Kalimantan. Tetapi kadang-kadang miris juga, melihat beberapa bukit di kawasan itu sudah mulai gundul. Entah itu karena kebakaran hutan atau ulah tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Perjalanan kami pun sempat terhenti ketika di depan mobil kami tersaji pemandangan seekor ular melintas sambil membawa seekor tikus di mulutnya.



Ketika memasuki kawasan bukit Bengkirai, kita di sambut dengan kawasan peristirahatan yang tenang. Beberapa bangunan serupa cottage yang terbuat dari kayu
menghiasi padang rumput hijau yang cukup lapang. Sejauh mata memandang terbentang hijaunya pepohonan yang menjulang, seakan bersaing menyentuh langit. Saya semakin tak sabar untuk memasuki kawasan tersebut, apalagi di kawasan ini terkenal jembatan kanopinya yang merupakan satu-satunya di Asia…




Letak jembatan kanopi dari base camp sek
itar 500 m. Untuk mencapainya kita harus berjalan kaki melalui beberapa trek. Trek I berjarak sekitar 150 m dengan rute menanjak. Untuk menempuhnya tak begitu sulit karena jalan setapak di sini masih sangat jelas terlihat. Di beberapa tempat bahkan tersedia anak yang mempermudah kita mendaki.



Kemudian setelah trek I dilalui, kita harus menempuh Trek II sejauh kurang lebih 300 m. Trek ini memang tak semudah Trek I sebab jalan setapak di sini sudah mulai membaur dengan daun-daun yang berjatuhan. Sepanjang jalan kita disuguhkan pohon-pohon khas hutan tropis berukuran besar seperti pohon Bengkirai dan Meranti.



Setelah kita melalui trek itu, akhirnya masuklah kita ke Jembatan Kanopi. Jembatan tersebut menghubungkan pohon bengkirai satu dengan
pohon bengkirai lainnya yang berjumlah 5 setinggi 30 m dari permukaan tanah. Dari atas jembatan kita dapat melihat formasi Tajuk Tegakan Dipterocarpaceae sebagai ciri hutan hujan tropis yang cukup indah dan membentk stratum atas yang saling sambung menyambung (untuk urusan ini saya tak begitu mengerti, kita coba tanya kawan petualang kita saja mas alamendah…)



Menurut sejarahnya, jembatan kanopi ini dibuat pada tahun 1998. Tahap pertama dikerjakan pada bulan Januari 1998 dan tahap kedua selesai pada bulan Februari 1998. Jembatan ini dikerjakan oleh para kontraktor dari Amerika yang tergabung dalam Canopy Contraction Asociated sebanyak 6 orang. Bahan-bahannya selain kayu, jembatan ini juga menggunakan material baja anti karat (Galvanized) hingga diperkirakan konstruksi dan umur jembatan mampu bertahan hingga 15-20 tahun sejalan dengan umur pohon penyangga itu sendiri.



Puas menikmati indahnya hutan tropis yang masih tersisa, saya pun beranjak menuruni jembatan kanopi. Untuk kembali ke base camp, saya dan kawan-kawan memilih untuk tidak menggunakan Trek yang sama dengan yang telah kami lal
ui sebelumnya.

Kami pun mencoba jalur Trek IV yang berjar
ak sekitar 1 km menuju base camp melalui komplek Flying Fox dan Kebun Anggrek Hitam, flora khas Kalimantan Timur. Namun sepertinya trek yang kami tempuh jarang terjamah oleh pengunjung. Alhasil selama perjalanan kami tak menemukan “manusia” lain. Flying fox dan Kebun Anggrek hitam yang rencananya kami singgahi juga ternyata terlihat terbengkalai begitu saja. Hanya plang yang terbuat dari kayu terhalang semak belukar berisi tulisan quote untuk menjaga alam dan jajaran pohon-pohon besar.


Yah, tak apalah. Setidaknya kami sudah merasakan bagaimana aroma hutan tropis sebelum semuanya punah. Jadi prihatin, ketika rencana pembangunan yang digulirkan pemerintah harus mengorbankan kelestarian alam ini. Semoga anak cucu kita nanti masih bisa mera

Semoga…
Selengkapnya...

Sepotong semangat dan sebuah award...


Wah..wah...setelah beberapa lama mengalami resesi semangat, akhirnya saya bisa bangkit lagi. Terima kasih kawan-kawan atas dukungan morilnya. Yah, namanya manusia, jadi tak selamanya saya bisa menjadi sekuat apa yang kalian bayangkan. Tapi, untungnya saya masih memiliki keluarga, kekasih, dan kawan-kawan tersayang.

Semenjak saya posting tulisan tentang
homesick yang saya rasakan, dukungan untuk saya yang diberikan oleh kawan-kawan tak henti mengalir. Layaknya pasangan Bibit-Chandra terkait kasus kriminalisasi KPK, atau kasus Mbah Minah yang diseret ke meja hijau hanya karena 3 buah kakao. Dukungan-dukungan berupa teriakan-teriakan semangat terasa sangat berarti.

Tapi bukan kasus-kasus itu yang ingin saya bahas kawan....


Belum sempat atau belum siap saya dengan materi-materi untuk membuat postingan membahas kasus-kasus itu. Alih-alih saya mengutarakan pendapat, nanti malah kena kasus seperti ibu Prita. Ah, demokrasi di negeri ini ternyata masih mahal...(kok OOT lagi yah?...)

Padahal disini saya ingin mengucapkan terima kasih kepada kawan-kawan yang telah memberikan dukungan untuk saya. Kekasih saya yang telah mengirimkan saya sepotong puisi berbahasa Inggris setelah membaca tulisan saya, tetapi karena dilarang jadi tidak bisa dipublish (maaf kawan-kawan, untuk privasi saja ^_^...) Dan juga tak lupa dengan Mbak Dhila yang telah memberikan award untuk saya (wah..benar-benar memenuhi janjinya nih...^_^)

Award yang saya terima dari mba dhila kali ini katanya bernama Blogger Award Community. Saya sendiri masih belum mengerti apa artinya, tapi setidaknya dengan award-award seperti ini bisa semakin menguatkan ukhuwah tali perbloggeran Indonesia (terlalu tinggi gak ya harapannya?...)

Award ini saya persembahkan untuk (hmm..) semua kawan-kawan saya sajalah yang mau mampir kesini. Khususnya ingin saya berikan kepada Kanglurik, yang telah berjasa mempromosikan blog ini;dan shavaat, inspirasi saya dalam menulis catatan harian dan petualangan. Juga untuk semua kawan-kawan yang mau bersusah payah mendukung saya ketika terpuruk.

Terima kasih yah mba Dhila atas hadiahnya, kapan-kapan saya buatkan hadiah lagi deh(hehehehe...). Terima kasih juga kawan-kawan....

Saya gak mau kalah dengan para pahlawan yang rela memberikan banyak pengorbanan untuk bangsa ini. Yah, jika kita tak bisa menjadi pahlawan untuk orang lain, setidaknya bisa jadi pahlawan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang-orang yang kita sayangi...
Selengkapnya...

Homesick...


Entah kenapa akhir-akhir ini mendung selalu menggelayuti langit kota ini. Bukit di belakang kost ku juga selalu menampakkan deretan pohon yang semakin pekat. Baru kali ini aku merasakan benar-benar sendiri. Kesendirian yang benar-benar seakan menyiksa batin.

Setiap pagi selalu kusaksikan kabut selalu enggan tersibak, seakan menjadi tirai dari langit yang enggan menampakkan sinarnya. Pagi selalu tampak murung. Tak kudengar lagi nyanyian burung seperti hari kemarin. Embun pun kurasakan begitu dingin sedingin jiwa ini. Pada cermin, selalu kulihat seorang pria dungu yang menampakkan wajahnya dan selalu bertanya “Apa yang kau lakukan disini?”

Jika kurenungkan lagi, memang selalu menjadi pertanyaan mengapa aku harus disini. Ada perasaan gundah atau apalah namanya aku tak tahu. Jauh dari orang-orang yang kusayang. Jauh dari orang-orang yang kucintai. Pertanyaan itu selalu menggelayut, mengapa aku disini?



Tiba-tiba saja aku merasakan rindu yang sangat hebat. Berkelebatan bayangan-bayanganku bercengkerama dengan mereka. Mendengar celotehan, tangisan, atau apapun yang biasa kudengar. Ingin ku lihat wajah mereka satu per satu. Meski tersamar di antara genangan air yang memenuhi kelopak mata.


Aku terbayang dengan adik kecilku. Rindu tawanya yang mungkin tanpa arti. Tapi bagiku itulah penyemangat hidup. Meski hanya mendengar suaranya -jika kutelepon- dengan jawaban sepotong kata. Tapi aku senang.


Aku membayangkan wajah ibu, dengan wajah lembutnya meski terlihat lelah sekadar menegurku, mengingatkanku, atau apalah. Melihat bapak, yang meski sudah termakan usia, tapi tetap kuat. Semua mereka lakukan demi melihat anak-anaknya bahagia.
Aku rindu dengan adik-adikku. Meski kadang bertengkar hanya memperebutkan sepotong kue. Ah, tapi itu dulu. Kini seakan semuanya telah menggapai cita-citanya masing-masing.

Aku merindukan kekasihku. Melihat senyumnya atau bahkan cemberutnya. Mendengar celotehnya tentang apa yang dialaminya. Berbagi cerita.


Ah, kenapa semua seakan menghilang? Kemana semua?


Kini yang ada tinggal aku dan Tuhanku. Membuka percakapanku dengan-Nya hanya berharap semua bisa bahagia. Aku hanya bisa mengadu pada-Nya bahwa aku disini untuk mereka. Semua ku korbankan agar mereka bahagia. Biarkan mereka tidak tahu, percakapan ini hanya antara aku dan diriMu.

Ya Rob…tolong jangan sia-siakan pengorbananku. Jika kurelakan rasa rindu ini terenggut aku tak akan merelakan jika Kau merenggut kebahagiaan mereka. Ah, aku hanya merasa rindu, rindu yang sangat…

Samarinda, 14 Nov 2009 pukul 01.33 dinihari WITa, diiringi “Homesick” King Of Convenience…

Gambar diambil disini
Selengkapnya...

Terima Kasih, Hadiah untuk Kawan


Apa kabar kawan? Senang rasanya bisa jumpa lagi,walau hanya melalui tulisan. Sudah beberapa hari ini, bahkan mungkin pekan, saya tak sempat berkunjung sekadar menyapa atau memberikan komentar pada tulisan atau postingan kawan-kawan.

Ada kejadian menarik yang saya alami beberapa hari yang lalu. Saat itu saya sedang mengikuti perkuliahan penganggaran perusahaan. Sang dosen menceritakan kepada mahasiswanya perihal kosongnya kuliah pekan lalu. Beliau telah mengirimkan pemberitahuan atas kosongnya jadwal kuliah kepada beberapa mahasiswanya, termasuk saya.
Namun ada yang sangat disayangkan, katanya. Dari sekian banyak mahasiswa yang diberitahu melalui sms, tak ada seorangpun yang membalas sms tersebut dengan sms balasan berbentuk ucapan terima kasih. Beliau menjelaskan bahwa bukan ucapan terima kasih yang diharapkan darinya, tapi bagaimana cara kita memperlakukan orang lain.

Begitu besarkah makna dari sebuah ucapan terima kasih?


Ya, mungkin kita sering menganggap ucapan terima kasih adalah hal yang sepele, sama halnya dengan ucapan tolong dan maaf. Tapi ternyata, kata-kata tersebut adalah ungakapan-ungkapan luar biasa. Ungkapan yang menunjukkan betapa berharganya orang lain. Ungkapan terima kasih menunjukkan bagaimana kawan-kawan menghargai orang lain yang telah bersedia “melayani” anda.

Coba, kita rasakan perbedaannya ketika kita melakukan sesuatu, baik secara langsung atau tidak langsung, untuk orang lain. Jika orang tersebut mengucapkan “terima kasih” setidaknya ada yang menyenangkan dan menenangkan hati dari pada orang tersebut langung “melengos” tanpa sepatah kata pun. Bukan begitu?...

Dalam kesempatan ini pula, saya juga ingin mengucapkan “Terima Kasih” yang sebesar-besarnya kepada kawan-kawan sekalian. Tak terasa, ternyata duniamuam ini sudah genap berjalan 2 tahun pada bulan Oktober kemarin. Usia yang memang bisa dibilang cukup umur bagi sebuah blog. Namun tanpa bantuan, kunjungan dan komentar dari kawan-kawan sekalian, blog ini tak aka nada apa-apanya dan tak ada manfaat yang bisa diambil.


Pada awal pembuatannya, blog ini hanya berisi catatan-catatan yang “gak jelas” dari seorang muam. Sampai akhirnya saya bertemu dengan kawan-kawan sekalian, baik yang dengan senang hati mampir ke sini maupun yang “nyasar”. Semakin lama akhirnya saya menyadari kalau blog itu adalah tempat untuk berbagi, entah itu kisah, gundah, atau berbagai pengalaman.

Sebagai ungkapan terima kasih saya dari hati yang paling dalam, saya persembahkan sebuah award untuk kawan-kawan yang pernah mampir ke sini dan bersedia meramaikan blog ini. Nama award yang saya berikan adalah Terima Kasih Award. Tak ada persyaratan ataupun pemilihan untuk mendapatkannya. Ini hanya ungkapan terima kasih saya yang paling dalam dari hati atas kesediaannya berbagi dalam duniamuam sampai saat ini.


Terima Kasih Kawan…

Selengkapnya...

Hujan dan melankolis...

Adakah korelasi antara hujan dengan melankolis? Ah, sepertinya aku selalu merasakannya. Di setiap hujan turun, suasana yang melankolis langsung tercipta. Aroma tanah yang basah tiba-tiba saja menyeruakkan memori-memori masa lalu. Membangkitkan kenangan yang hampir mati tergerus waktu. Lalu terdampar ke dalam kelebat pikiran yang menjadikan aku amnesia dengan waktu.



Seperti hari ini, mulai dari pagi sejak ku membuka mata, langit sepertinya enggan menyibakkan selimut gelapnya. Di kejauhan nampak awan mendung bergelayut menyelimuti langit-langit kota yang makin lama makin mendekat. Akhirnya kelam muncul. Aroma tanah yang sebelumnya terasa jauh, kali ini telah memenuhi rongga hidungku. Tiba-tiba saja awan-awan tersebut mencurahkan air dalam jumlah yang luar biasa banyaknya. Mengetuk setiap atap rumah dengan kasar seakan ingin masuk ke dalam.

Sementara, diriku seakan merasa tak terganggu dengan keadaan di luar sana. Aku masih tergeletak dengan nyaman di atas kerasnya kasur kamar kost. Aku justru merasa nyaman dengan suasana itu. Hujan yang turun di luar membawa aroma-aroma yang tak berbeda dengan masa lalu. Malas rasanya untuk membuka mata. Dengan suasana ini aku ingin kembali bermimpi, melanjutkan perbincanganku yang belum tuntas di masa lalu.

Ah, tapi mata ini enggan terpejam, hari sudah tak pantas disebut pagi. Namun, di sana, matahari pun enggan menampakkan diri. Sepertinya ini yang dinamakan melankolis. Seperti matahari yang enggan muncul, aku juga merasa enggan untuk menyibakkan selimut kenangan dari dalam pikiranku. Aroma hujan membawa diriku ke alam paling dalam, menyelami satu persatu kabut waktu. Aku masih disibukkan dengan sebuah pertanyaan yang tak bisa dicerna dengan logika.

Sudahlah, aku masih ingin menikmati suasana melankolis ini. Toh, tidak setiap hujan mau datang dan mampir ke tempatku.
Semoga melankolis sehabis hujan ini tak dirasakan oleh masyarakat samarinda karena biasanya setelah hujan yang cukup deras, air sungai meluap, menggenangi rumah-rumah warga. Ah, aku tak mau itu terjadi..

Selengkapnya...

Guncangan lagi di Bumi Pertiwi...

reruntuhan bangunan kibat gempa di Padang kemarin, sumber: detikcom

Bagaimana kabarmu kawan? Seminggu telah lewat sejak lebaran lalu, banyak kisah-kisah menarik yang kubaca. Tetapi kudengar tanah bumi pertiwi kembali berguncang. Di wilayah Sumatera katanya, tepatnya di bagian Sumatera Barat. Aku mengetahuinya dari televisi semalam.


Panik. Tangismu pecah, pekik histeris dimana-mana. Bukan karena kedatangan Michael Jackson tetapi saat kamu mengetahui tanah bergemuruh dan bagunan luluh lantak. Ah, jika aku berada disana dan mengalami hal yang sama aku juga tak bisa berkutik. Disini pun aku hanya diam seribu bahasa, termangu tak bisa apa-apa. Hanya mulutku berkomat-kamit semoga kawan-kawanku yang sedang berada di sana berada dalam keselamatan.


Untuk kesekian kalinya Sang Maha Kuasa menunjukkan kekuasaannya. “Kunfayakuun…” begitu katanya, segeralah segalanya bisa terjadi. Semakin terasa ciut saja kita sebagai manusia. Entah ini pemberian cobaan atau teguran dari-Nya. Sepertinya Dia telah bosan dengan keangkuhan kita sebagai manusia. Semoga kita mau belajar dari kejadian ini…



salah satu bangunan yang ikut hancur akibat gempa, sumber: detikcom

Saya turut bersimpati atas musibah yang terjadi di Padang dan sekitarnya, semoga para korban mendapatkan tempat yang lebih baik di sisi-Nya dan para keluarga yang ditinggalkan tetap tabah. Untuk kawan-kawan yang terkena musibah tetaplah bersabar, akan ada hikmah yang bisa dipetik di balik setiap kejadian.
Selengkapnya...

Cerita saat Ramadhan


Sumber gambar: styleislam dengan beberapa perubahan

Kawan, Alhamdulillah, doa kita pada saat Lebaran tahun kemarin dikabulkan. Kita meminta agar bisa dipertemukan kembali dengan Bulan Ramadhan. Dan Ramadhan pun tiba... Kali ini kita diberi kesempatan kembali untuk merasakan bulan tersebut. Mengisi bulan tersebut dengan sebaik-baiknya, mungkin bisa lebih baik dari Ramadhan tahun-tahun sebelumnya. Semoga saja Sang Maha Kuasa masih mau memberikan amnesti untuk kita. Semoga saja...

Kawan, entah kenapa pada Ramadhan kali ini aku merasa beda. Bukan beda karena diriku yang berubah, tetapi ada suasana yang tidak sama dengan Ramadhan sebelumnya. Memang Ramadhan kali ini aku jauh dari keluarga, tetapi bukan hanya itu suasana yang kurasakan beda. Aku rasa aku sudah terbiasa dengan hal itu. Namun, ada banyak hal yang akan kurindukan dari Ramadhan-Ramadhan sebelumnya yang mungkin tak bisa ku dapatkan dalam Ramadhan kali ini.


Kawan, aku merindukan saat-saat sahur dahulu. Yah, meskipun dengan menu seadanya, aku hanya merindukan suasananya, kesederhanaannya. Cukup bagiku Indomie rebus atau sayuran serta lauk pauk sisa semalam yang dihangatkan. Namun bagiku, kehangatan saat-saat itu yang lebih nikmat.

Kawan, aku merindukan saat-saat berbuka dahulu. Menunggu adzan maghrib berkumandang di masjid, duduk bersila mengelilingi hidangan berbuka bersama yang lain. Saat adzan berseru, segera kami menyantap hidangan tersebut. Penarik becak, penjual roti, penjual siomay, pengusaha, pak RT, pak RW,ustadz, marbot masjid, pelajar, anak-anak, semuanya menikmati hidangan dari wadah yang sama tanpa ada pembeda. Semuanya setara.

Kawan, aku merindukan saat-saat menjelang tarawih dahulu. Berusaha datang lebih awal untuk menempati shaf terdepan karena mendapatkan tugas untuk menjadi bilal atau menjadi pembuka acara ceramah. Kata ustadz untuk memupuk rasa percaya diri. Tapi aku senang, berarti yang muda masih dipercaya, sebab katanya banyak yang belum mempercayai anak muda seperti kita kawan.

Kawan, aku merindukan saat-saat setelah tarawih dahulu. Setelah tarawih selesai tidak segera pulang tetapi berkumpul dengan kawan-kawan lainnya. Sekadar mengobrol atau saling tukar pengalaman. Setelah itu, duduk melingkar dan mulai membaca mushaf Al-Qur’an. Yah, lumayan..meski hanya satu atau dua halaman tetapi jika bersama-sama tak akan terasa. Tiba-tiba saja sudah berganti surat. Kemudian berebut hidangan kue sisa ta’jil tadi sore....

Nah kawan, itu hanyalah cerita dari Ramadhan-ramadhan lalu yang pernah ku alami. Entahlah, apakah pada Ramadhan kali ini aku bisa merasakan hal yang serupa. Tapi, mungkin saja aku punya pengalaman baru dalam Ramadhan kali ini. Iya, kan hidup itu harus dinamis, tidak boleh stagnan, begitu katanya.

Mungkin Ramadhan setiap tahunnya memiliki cerita tersendiri. Bagi setiap orang juga Ramadhan memiliki kesan yang unik. Maukah kawan-kawan berbagi cerita denganku? Yah, meski hanya sebagai pelepas rindu...

Selengkapnya...

Blog ini sedang dalam perbaikan...

Kawan-kawan blogger yang terhormat, untuk beberapa hari ke dapan blog ini akan mengalami renovasi. Saya, sebagai pemilik blog meminta maaf sedalam-dalamnya jika dalam kurun waktu tersebut belum ada artikel posting terbaru.

Oh, iya. Kerusakan blog ini terjadi akibat tindakan "iseng" saya mengutak-atik template. Padahal sudah saya download full template sebelumnya. Tapi ketika diunggah lagi beberapa data banyak yang hilang, termasuk widget-widget yang sebelumnya telah terpasang. Salah satu widget yang hilang adalah link menuju ke blog milik kawan-kawan sekalian.


Oleh karena itu, dalam kesempatan kali ini mohon bantuan dan partisipasinya dalam memperbaiki blog ini. Saran dan kritik dari kawan-kawan sangat diharapkan agar dapat membangun sebuah blog yang bisa bermanfaat. Untuk teman-teman yang link-nya sudah terpasang namun sekarang hilang mohon konfirmasinya lagi...

Owh..padahal masih banyak yang ingin ditulis, tapi kayaknya content yang ada harus diperbaiki terlebih dahulu ya... Mohon bantuannya ya kawan-kawan...
Selengkapnya...

Tarakan, sebuah pulau...

Akhirnya, setelah sebulan lebih saya menghilang dari belantara kata, saya bisa kembali mengisi kembali blog ini dengan posting terbaru. Kemarin2 bukan ku menghilang dari peradaban, tapi karena tuntutan tugas mengabdi pada negara (lebay mode : on). Yup, Surat Tugas yang diberikan di pekan-pekan terakhir bulan Juni mengirimku bertugas ke sebuah pulau di ujung utara Kalimantan Timur. Tarakan... Sebuah pulau yang bisa dikatakan tidak begitu besar namun memiliki kota yang cukup ramai.

peta pulau Kalimantan. Sumber: wikipedia


peta wilayah letak Pulau Tarakan.Sumber :wikipedia


Karena hanya sebuah pulau, mengelilinginya tak butuh waktu yang begitu lama. Cukup sediakan beberapa jam dalam satu hari. Di ujung timur pulau terdapat Pantai Amal. Garis pantai yang menjulur dari selatan pulau ke wilayah utara langsung bersentuhan dengan Laut Sulawesi. Dari bibir pantai kita bisa melihat siluet dari Pulau Bunyu serta bayangan laut ambalat di arah Timur Laut.

pemandangan dari salah satu sudut pantai amal


Wilayah timur pulau ini masih begitu rimbun. Hampir sebagian besar garis pantainya dipenuhi dengan kawasan hutan bakau sampai ke selatan. Apalagi kalau kau memasuki wilayah Timur Laut Pulau ini, hutan lindung masih menyelimuti sebagian besar kawasannya.


Ke arah barat kau akan menuju pusat kota Tarakan. Namun, di garis pantai barat dekat Pelabuhan Tengkayu II, kau akan bertemu dengan wilayah konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan. Yup, biasanya di tempat ini terdapat bekantan, hewan sejenis monyet dengan hidung besar menggantung, berkeliaran di wilayah ini. Sayangnya, kami berkunj

ung bukan pada waktu yang tepat, sehingga tidak sempat melihatnya.


Papan nama Kawasan Konservasi Hutan Mangrove dan Bekantan



Dari arah timur kau bisa melaju ke arah utara. Melewati bandara Juata Tarakan menuju arah Pantai Amal. Wilayah disini culup berbukit-bukit. Semakin ke utara lalu berbelok ke arah timur memasuki kawasan hutan lindung jalan sudah terputus. Jika kau bisa menemukan angel yang tepat, panorama pun takkan bisa kau lupakan. Hmmm..

kapal nelayan yang teroggok di dekat Pelabuhan Feri, wilayah Pantai Barat Tarakan


pantulan cahaya matahari sore dari laut di utara Tarakan, Juata Laut

Yup, hanya dalam waktu sehari semuanya bisa kau temukan. Selain berdus-dus dokumen yang ku bawa sebagai oleh-oleh, sekilas cerita juga jangan sampai terlupa. Setidaknya bisa menunjukkan keindahan Indonesia itu masih terhampar luas kawan. Masih banyak sudut-sudut yang belum kau jamah…


horizontal line dilihat dari bukit di juata laut


special thanks to: Mba Dhata, Mba Nur, dan Bang Denny atas bimbingan dan bantuannya dalam melaksanakan tugas di Tarakan... masih banyak PR yang harus dikerjakan lagi yah?






Selengkapnya...

Ritme musik monoton di jumat pagi

Seperti biasanya, Jum'at pagi harus berangkat lebih pagi menuju kantor. Khusus untuk hari ini di setiap pekannya tak perlu kau mandi atau berbenah diri. Percuma saja, bulir keringat akan memenuhi sekujur tubuhmu. Tiba disana kau akan disambut dengan gerakan-gerakan atraktif dari seorang instruktur wanita, dan kau harus mengikuti gerakan tersebut. Diiringi dengan dentuman ritme musik monoton dari band-band yang biasa tampil lipsing di telivisi atau band yang membawakan lagu patah hati seperti kangen, ST12, hijau daun, ungu, dan lainnya yang musiknya hampir serupa. Kau taulah... Jadi terpikir olehku mengapa tak mereka setel saja Goodnight Electric, Polyster Embassy, Mobil Derek, dan jika perlu the upstairs yang memang semenjak awalnya lagu mereka diciptakan seperti itu. Yah, lagi-lagi ini hanya masalah telinga kawan...

Yah, kegiatan seperti itu berlangsung di setiap hari terakhir dalam sepekan. Dibenci tapi dinanti. Saya juga tak pernah tau apa yang menjadi alasan untuk membencinya. Mungkin ini hanya urusan tenaga kawan atau mungkin masalah bangun pagi. Dinanti, itu karena kegiatan ini menandakan hari ini adalah hari Jumat. Hari terakhir di minggu ini untuk menjalankan rutinitas. Hari yang seakan-akan menandakan besok ada 2 hari untuk sekadar beristirahat sejenak sebelum mempersiapkan untuk memulai rutinitas lagi di hari Senin. Mungkin begitulah pikiran yang menerawang di dalam benak masing-masing, masih dengan alunan ritme musik monoton yang kali ini kian menghentak dengan kapasitas bass maksimum.

Tapi bagiku mungkin lain. Aku suka hari itu. Bukan karena musiknya, bukan karena besok libur, bukan karena akhir pekan, dan bukan juga karena suguhan "bokong" dari instruktur di depan mata. Bukan kawan. Yang kunantikan adalah saat-saat dimana kami bisa saling bercengkerama, tegur sapa, meski hanya sebatas senyum. Atau mungkin hanya saling menertawakan diantara sesama karena gerakannya tak "selenggok" orang di depan. Dimana disini semua sama, berdiri sejajar sama rata. Tak ada sekat atau ruang yang saling memisahkan. Semua menyatu dalam tawa, peluh, dan sesekali canda.

Dan dentuman ritme musik yang monoton itu tetap menyalak, kali ini dengan irama yang lebih pelan. Tak terasa pakaian telah diselimuti peluh. Padahal hanya bergerak tanpa aturan coba mengikuti orang di depan. Tarikan napas kemudian membuangnya ke udara bebas mengakhiri kegiatan. Besok ingin rasanya bisa terus bercengkerama, tegur sapa, dan bertukar senyum. Bukan hanya di setiap hari ini, tapi di setiap hari...

Dedicated to kawan2, bapak2, ibu2 BPK-RI Prov Kaltim... Selengkapnya...

Samarinda Kota Tepian

Akhirnya, tepat pukul 14.25 waktu setempat, kakiku menjejakkan diri di tanah Borneo. Yup, di Bandara Sepingan, Kota Balikpapan. Keluar darisana mobil-mobil double-cabin (begitu kawanku menyebutnya) lalu-lalang berseliweran. Salah satunya adalah mobil saudara kawan seperjalananku, Peppy. Namanya Mas Dwi. Ia bekerja di salah satu BUMN pertambangan di sana. Memang, pulau ini terkenal sebagai surga pertambangan. Mulai dari tepian pantai barat pulau ini kau akan menemukan kilang-kilang minyak berjejer. Belum lagi bukit-bukit di dalamnya yang menyimpan kandungan batu bara. Oh, tak sempat kuceritakan limpahan kekayaan alam di Bumi Zamrud (begitu orang menyebutnya) ini...

Ford Ranger itupun membelah Kota Balikpapan. Untuk semalam kami akan tinggal di sana, menumpang di tempat kost Mas Dwi itu. Singkat cerita, keesokan paginya kami melanjutkan perjalanan ke Samarinda menggunakan mobil yang sama. Dengan ditemani seorang guide, Mba Lisa namanya, kami berangkat. Mobil melaju membelah hujan yang cukup deras.

Sepanjang perjalanan dari Balikpapan-Samarinda pemandangan yang ada adalah jajaran pohon dari hutan-hutan Kalimantan. Sesekali terlihat bukit-bukit yang dipuncaknya terlihat pucuk-pucuk pohon. Hujan yang deras menjadikan daerah sekitar berkabut. Jarak pandang mungkin hanya beberapa meter. Perjalananpun sempat mengalami kendala. Beberapa ruas jalan tersebut terkena longsor. Maklum, tanah di pulau ini sebagian merupakan tanah gambut sehingga tak aspal yang ada disana tak bisa bertahan lama. Lagi pula, dari beberapa sumber, aspal di jalan Trans Kalimantan itu sering dilewati oleh truk-truk pengangut sumber daya alam dengan beban yang berlebih. Jadi ya bisa dimaklumi...
Setelah kurang lebih 2,5 jam perjalanan kami pun sampai di gerbang Samarinda. Masih disambut dengan hujan yang cukup lebat. Beberapa ruas jalan sudah terendam air. Kami saksikan beberapa bukit sudah mulai gundul. Entahlah, mungkin eksploitasi SDA dari kerakusan manusia yang menyebabkan itu semua atau memang karena erosi alam...

Jembatan Mahakam pun kami seberangi. Di sungai ini setiap harinya berlseliweran kapal-kapal besar mulai dari kapal tongkang hingga kapal tanker. Ribuan ton batu-bara, jutaan kubik gelondongan kayu, diangkut melalui sungai yang lebar itu. Oh, betapa kayanya Bumi Borneo ini... Mungkinkah kekayaan itu bisa dinikmati masyarakat setempat?..




Akhirnya, setelah perjalanan yang melelahkan tiba juga di pusat Kota Samarinda. Masih dengan sisa-sisa bulir hujan dari langit, kendaraan kami melaju melintasi genangan air disana-sini. Kota ini memang sering terendam banjir jika hujan lebat. Apalagi jika durasi hujan itu lama. Hmm...memang benar kota ini benar-benar kota tepian. Selain Sungai Mahakam yang mengalir membelah kota, masih banyak sungai-sungai lainnya meliuk-liuk menyusuri dalam kota. Di tepian sungai tersebut banyak didirikan rumah-rumah panggung. Yah tak ubahnya di Jakarta dulu. Aku masih menemukan banjir.



Samarinda, dengan topografinya yang berbukit-bukit. Jalan-jalannya yang rumit. Pelabuhan sungainya. Warganya yang multi etnis. Oh, semuanya mungkin akan menjadi keseharianku nantinya. Mungkin aku akan menetap di kota ini dalam waktu yang cukup lama. Akupun berharap semoga kota ini masih memiliki ruang untuk menerimaku sebagai perantau. Semoga akupun dapat berkontribusi dalam pembangunan di kota ini. Semoga saja...



Selengkapnya...

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme