Menjadi Indonesia (yang Bhineka?...)

gambar: jika garuda tanpa bhineka, oleh: muam

ada yang memar, kagum banggaku,
malu membelenggu...
ada yang mekar, serupa benalu,
tak mau temanimu…
****
ada yang runtuh, tamah ramahmu
beda teraniaya…
ada yang tumbuh, iri dengkimu
cinta pergi kemana?...
(efek rumah kaca, menjadi Indonesia)

Rasanya pantas jika Efek Rumah Kaca membuat syair lagu seperti itu. Sebuah lagu yang terinspirasi dari buku karya Parakitri T. Simbolon dengan judul yang sama. Sebuah lagu yang mempertanyakan keadaan bangsa saat ini. Rindu akan sebuah kebanggaan terhadap suatu bangsa, rindu akan keramah-tamahan suatu bangsa, dan rindu akan cinta dari setiap masyarakat kepada masyarakat lainnya dalam suatu bangsa.

Jika Parakitri T. Simbolon dalam bukunya, “Menjadi Indonesia”, menceritakan bagaimana terbentuknya sebuah bangsa yang dinamakan “Indonesia” dari awal Nusantara hingga Perang Pasifik. Mungkin Efek Rumah Kaca lebih ingin membangkitkan kesadaran untuk peduli terhadap apa yang sedang dialami bangsa ini.

Memangnya ada apa dengan bangsa kita?

Dari penggalan syair sebelumnya, terlihat jelas kegelisahan akan hilangnya ciri khas suatu bangsa. Ciri khas akan indahnya keberagaman sebuah bangsa. Bangsa ini sudah terkenal dengan apa yang namanya “kemajemukan”. Siapa yang tak mengenal negeri yang memiliki belasan ribu pulau, ratusan suku bangsa, ragam bahasa, dan berbagai agama serta kepercayaan. Sejak zaman nenek moyang, keberagaman itu yang menjadi ciri khas bangsa ini.

Mahapatih Gajah Mada, sumber gambar: geocities

Apakah kawan-kawan ingat Sumpah Palapa yang dilakukan oleh Gajah Mada ketika ingin menyatukan kawasan Nusantara di bawah Kerajaan Majapahit? Satu per satu kerajaan kecil ditaklukan oleh Kerajaan Majapahit. Semenjak itu gugusan kepulauan yang terdapat di antara Samudera Hindia dan Samudera Pasifik berada dalam satu kesatuan Nusantara. Sejak saat itu kawasan tersebut berada dalam satu kesatuan politik.

Sampai akhirnya datanglah bangsa-bangsa Eropa ingin menikmati segala kekayaan di negeri ini. Satu per satu pulau mulai dikuasai. Perbedaan budaya antar wilayah menyebabkan kurangnya rasa persatuan dalam melawan penjajahan, sampai akhirnya dideklarasikan Sumpah Pemuda pada tahun 1028 yang menyatakan kebangsaan Indonesia. Sejak itulah lahir sebuah konsep tentang suatu bangsa yang dinamakan Indonesia. Sebuah bangsa yang didirikan di atas segala pluralisme budaya, Indonesia adalah sebuah keragaman.

Namun apa yang terjadi sekarang ini?

Seolah kita belum siap untuk menjadi Indonesia, keberagaman yang ada justru menjadi momok yang mengancam sebuah persatuan. Chauvinisme seakan masih mengisi hari-hari kita. Pertentangan perselisihan antar kelompok tak pernah sepi mengisi surat kabar harian atau media-media massa lainnya. Coba kawan lihat, sudah berapa kali para suporter sepakbola daerahnya masing-masing sibuk membuang batu dan “perkakas” lainnya kepada suporter tim sepakbola dari daerah lain? Berapa kali pula kelompok mahasiswa yang katanya “terpelajar” saling memberi bom molotov dalam menyikapi apa yang dinamakan “perbedaan”.

Salah satu contoh tawuran antar mahasiswa, sumber: detiknews

Berbicara pluralisme di negara ini memang menarik. Di satu sisi pluralisme merupakan pondasi dari didirikannya negara ini. Hal ini terlihat jelas dari semboyannya, “Bhineka Tunggal Ika” yang selalu setia dibawa kemana-mana oleh Sang Garuda. Namun, di satu sisi pluralisme menanamkan bibit-bibit perselisihan dan pertentangan. Pelik memang, namun itu adalah kenyataan kawan.


Sudah saatnya kita belajar bukan hanya dari buku literatur, tapi mau belajar dari lingkungan sosial. Pendidikan konvensional telah sukses mencetak generasi-generasi yang “berotak” dan ber”ego”. Pendidikan yang telah berhasil meneruskan generasi yang “super-segala”, merasa dirinya paling benar. Sudah saatnya sesekali kita lihat sekeliling, menyikapi perbedaan yang ada justru menjadi pengisi warna dalam kahidupan, dan menyadari bahwa pluralisme itu sendiri merupakan dasar dari didirikannya negara kita, Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Lalu bagaimana kawan, sudah siapkah saya dan kawan-kawan semua, kita, untuk menyebut diri kita sebagai Orang Indonesia? Siapkah kita Menjadi Indonesia, sebuah bangsa yang terdiri dari keberagaman? Kalau memang sudah siap, mari kita lanjutkan lagu tadi yang sebelumnya terpotong...

lekas,bangun dari tidur berkepanjangan
menyatakan mimpimu

cuci muka biar terlihat segar

merapikan wajahmu

masih ada cara menjadi besar

memudakan tuamu

menjelma dan menjadi Indonesia

......

Lagu Efek Rumah Kaca, Menjadi Indonesia bisa kawan-kawan download disini

Tulisan ini dibuat dalam rangka mengikuti Writing Contest Pestablogger 2009. Pestablogger sendiri merupakan ajang pertemuan para narablog se-Indonesia yang diadakan setiap tahunnya. Untuk tahun 2009 ini Pestablogger mengambil tema “One Spirit One Nation”.



26 Response to "Menjadi Indonesia (yang Bhineka?...)"

muam_disini mengatakan...

semoga Indonesia lekas bangun...

ersa.is.on.fire mengatakan...

iya ayooo banggkkitttttttttttttttttt!!!!!!!!!!!!

jalandakwahbersama mengatakan...

Assalamu'alaikum,
Tulisan yang bagus Mas Muam, semoga bisa memenangkan kontes, saya dukung Mas Muam dalam kontes ini. (Dewi Yana)

Oca mengatakan...

Saya cinta Indonesia...hiks...hiks..bikin ngiri ajah. Mas ajarin dunk biar pintar nulis..*enggak pintar nulis makanya kagak berani ikut kontes apa2*. Semoga menang, jangan lupa hadiah lempar ke Oca ya.hihihi

sedjatee mengatakan...

meski memprihatinkan, itulah kondisi yang faktual untuk saat ini... indonesiaku memerlukan tangan-tangan pembaharu yang ikhlas dan sungguh-sungguh ... salam bhineka tunggal ika...

sedj
http://sedjatee.wordpress.com

fadhilatul muharram mengatakan...

sedih soal indonesia, mas. aku juga pernah posting hal ini. jika tak keberatan bisa baca di http://goinover.blogspot.com/2009/09/my-home.html

muam_disini mengatakan...

>jalandakwahbersama : waalaikum salam....
terima kasih dukungannya mba,..
wah, senang rasanya bisa mendapatkan dukungan dari penulis besar seperti mba Dewi Yana..

>Oca: selamat datang lagi oca..hehehe...
wah, saya ini gak pintar menulis, ini aja baru sekali nyoba2 ikut kontes menulis...

>sedjatee: sepakat mas..regenerasi yang diperlukan.. namun bisa dilihat hasil dari regenerasi sekarang, kapan ya Indonesia bisa bangun?...

>dhila: sama mba...saya akan berkunjung kesana...

haciiiiiiii mengatakan...

lebaran udh tinggal itung hari tapi semoga pahala ramadhan kita lebih dari hitungan hari. MinalAidzinWalFaidzin mohon maaf lahir dan batin sepenuh jiwa setulus hati :)
met mudik :D

~noe~ mengatakan...

hmmm...
lambang garuda itu, apa boleh jika diposting pada jaman orde baru. :-)
banyak dari kita cukup prihatin dengan kondisi perkembangan pluralisme di negeri ini. namun diriku yakin masih lebih banyak yang prihatin daripada para pelaku chauvinisme itu. hanya bagaimana kita bisa bergerak untuk sedikit banyak membantu menjadi indonesia yang bhinneka tanpa tanda tanya.
semoga sukses :-)

muam_disini mengatakan...

>haciii: amiiin...wallahualam bishowab...
sama-sama yah, mohon maaf lahir dan bathin...
salam dari ketulusan hati..

>~noe~: hmmm...mungkin perblogeran juga tak akan ada di zaman orde baru...
belum apa-apa nanti sudah diberedel....
sepakat mas noe dengan pandangan anda, namun sekarang bagaimana caranya menghimpun kita-kita yang prihatin dengan kondisi bangsa untuk ikut merubah keadaan....
salam hangat selalu...

nengratna mengatakan...

baguuus banget. ada pelajaram sejarhnya. hihi ayo mampirrr :) dengan tema yang sama dan tujuan yang sama :D

diah pramesti mengatakan...

hrs disadari bhw dg bhinneka, negara kita mjd kaya.
mari tumbuhkan jiwa patriotisme... mulai dr diri kita...mulai sekarang...
salam sukses mas

muam_disini mengatakan...

>nengratna: terima kasih yah neng...saya sudah mampir ke sana..hebat kok, analoginya keren...

>dyah pramesti: benar mba,,,itu adalah kekayaan alamiah, mau bagaimana pun juga kebhinekaan merupakan salah satu unsur dari negara ini..
terima kasih yah mba dyah...

kawanlama95 mengatakan...

memang kita harus sadar diri sebagai anak bangsa, dan negara inipun harus mengapresiasi terhadap perunbahan zaman sehinga kurikulum pendidikan harus di ereformasi agar menghasilkan karakter yang membangakan.dan kembali kepada jati diri bangsa

Iklan Gratis mengatakan...

Bangsa kita memang memiliki beragam budaya yang sangat banyak, dan harusnya kita bangga dengan semua ini dan bisa menjadikan bangsa ini menjadi lebih maju,
Tapi sekarang ini banyak rakyat bangsa ini yang malah mengikuti budaya bangsa lain, dan tidak mengenal dengan budaya sendiri!
Iklan Gratis

perigitua mengatakan...

haddiirrrrrr….

Meniti ramadhan mengurai khilaf…
Mengharap tiada tersisa khilaf dan dosa…
Taqabbalallahu Minna Wa Minkum Syiyamana Wa Shiyamakum Minal ‘aidin wal faizin
Selamat Hari Raya Idul Fitri Sahabatku sayang…
Mohon Maaf lahir dan batin….

cu….

jalandakwahbersama mengatakan...

Assalamu'alaikum,
Untuk lisan yang mungkin telah salah berucap, untuk prasangka yang kadang timbul dihati. Untuk komentar yang kurang berkenan yang mungkin pernah saya berikan, dengan setulus hati, saya mohon di maafkan lahir batin. Saya dan keluarga mengucapkan Selamat Idul Fitri, 1 Syawal 1430 H. (Dewi Yana)

KangBoed mengatakan...

Terselip khilaf dalam candaku,
Tergores luka dalam tawaku,
Terbelit pilu dalam tingkahku,
Tersinggung rasa dalam bicaraku.
Hari kemenangan telah tiba,
Semoga diampuni salah dan dosa.
Mari bersama bersihkan diri,
sucikan hati di hari Fitri.
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Taqoba lallahu minnaa wa minkum
Shiyamanaa wa shiyamakum
Minal ‘aidin wal faizin
Mohon maaf lahir dan batin
Salam Cinta Damai dan Kasih Sayang ‘tuk Sahabatku terchayaaaaaaaank
I Love U fuuulllllllllllllllllll

KangBoed mengatakan...

Kedal ing rasa nu pinuh ku bangbaluh hate, urang lubarkeun, ngawengku pinuh ku nyuuh, meungpeung wanci can mustari. Taqabalallahu Minna Wa Minkum
Wilujeng Idul Fitri 1430 H, sim kuring neda dihapunten samudaya kalepatan.
Kuring neda dihapunten kana samudaya kalepatan, boh bilih aya cariosan anu matak ngarahetkeun kana manah, da sadayana oge mung saukur heureuy, manusa mah teu tiasa lumpat tina kalepatan jeung kakhilafan

Riyanti mengatakan...

M3l4t! sem3rb4k h4rum m3wangi
S3bagai p3nghias di Hari Fitri
Blog nie h4d!r p3ngg4nt! Dari
Ulur4n tang4n Silaturahim
Selamat hari Raya Idhul Fitri 1430 H
Mohon Maaf Lahir dan Bathin

Salam sayank ^-^

mamah aline mengatakan...

Semoga datangnya idul fitri 1430H, mensucikan hati dan menjernihkan pikiran dari emosi dan keegoan kita agar bangsa Indonesia kembali kepada hakekat kerukunan dan persatuan yang mulai dirasakan memudar, amien..

haciiiiiiii mengatakan...

Maaf saja takkan cukup untuk semua yang telah terjadi, namun aku hanya bisa memberikan seikat penyesalan dan sebuket maaf untukmu…Selamat Hari Raya Idul Fitri 1430 H
Taqobalallahu minnaa wa minkum Shiyamanaa wa shiyamakum Minal ‘aidin wal faizin, Mohon maaf lahir dan batin :)

muam_disini mengatakan...

>kawanlama95: sepakat kawan, bangsa ini sudah saatnya berubah, perubahan diawali dengan pendidikan yang berkualitas...
bukan hanya kualitas hard skillnya, tapi dalam soft skillnya juga agar menjadi generasi yang tangguh...
salam..

>iklan gratis: sip..hargai budaya sendiri...
terima kasih kunjungannya kawan..

>perigitua: taqabal yaa kariim...
sama-sama mas, mohon maaf lahir batin...

>jalandakwahbersama: sama-sama mba Dewi Yana..
mohon maaf atas segala kesalahan dan khilaf karena kealpaan sebagai manusia..

>kangboed: taqabal yaa kariim kang..
mohon maaf atas khilaf dan salah yang ku lakukan...
suatu kehormatan mendapat kunjungan dari kangboed..
hehehehe...

>Riy4nti: sama-sama mbak..mohon maaf lahir bathin..
semoga tali silaturrahim bisa tetap terjaga..
salam sayang selalu..

>mamah aline aka nyengik: hmm..benar,,semoga di hari yang fitri ini persatuan bangsa bisa semakin direkatkan..
silaturrahim merupakan sarana untuk merekatkan persatuan bangsa..

>haciiii: Taqabal yaa kariim...
sama-sama sahabatku...maafmu telah kuterima dan kupajang, bagaimana dengan maafku?..:)

neng_nong mengatakan...

ayo..ayo.. semoga tulisannya menang!!!

bang muam coba angkat tema sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang telah dibohongi o/ para pmbuat sejarah...

muamdisini mengatakan...

>neng: wah,makasih yah neng bwt masukannya...
tapi saya kan bukan ahli sejarah,nanti alih2 meluruskan sejarah malah membuat versi sejarah menurut saya sendiri...
sejarah itu kan harusnya ditulis secara objektif, bukan begitu?

Dwi Wahyudi mengatakan...

Tulisannya bener-bener bagus mas, sepertinya masuk dalam nominasi nih. Btw, bisa donk belajar sedikit trik menulisnya mas. Trims...

Posting Komentar

mohon komentar, kritik, dan sarannya...

powered by Blogger | WordPress by Newwpthemes | Converted by BloggerTheme